Thursday, January 19, 2017

TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Januari 2017

BacaMazmur 131:1-3

"Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku."  Mazmur 131:2

Semua orang membutuhkan ketenangan dalam menjalani hidup, namun di hari-hari ini ketenangan seolah-olah semakin menjauh dari kehidupan manusia.  Bagaimana bisa hidup tenang jika setiap hari kita mendengar dan melihat berita-berita yang mengejutkan dan aneh-aneh di surat kabar atau televisi.  Contoh:  berbagai virus penyakit kini banyak bermunculan, bahkan virus mematikan pun menjadi teror tak kasat mata bagi semua orang:  Zika, Ebola, SARS, MERS, H7N9, HIV dan sebagainya;  bencana alam terjadi di mana-mana tanpa dapat diduga datangnya, seperti banjir bandang di Garut  (Jawa Barat), badai Matthew yang memporak-porandakan kota Haiti dan juga beberapa wilayah di Amerika.  Juga ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran bermunculan di mana-mana dan menyesatkan banyak orang.  Semua situasi ini menyebabkan orang kehilangan rasa tenang, yang ada rasa gelisah dan was-was.

     Menjadi orang percaya tidak berarti membebaskan kita dari semua situasi yang ada.  Kita masih dihadapkan pada kesukaran, masalah dan tekanan dengan segala bentuknya, namun tidak seharusnya kita kehilangan rasa tenang.  "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;"  (Mazmur 34:20).  Kita tetap tenang di segala situasi apabila kita senantiasa bergaul karib atau tinggal dekat dengan Tuhan, sebab Dialah sumber ketenangan yang sejati.  "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah."  (Mazmur 62:2-3).  Di dalam Tuhan ada harapan, ada perlindungan dan ada keselamatan yang pasti.

     Jika kita berpegang teguh kepada janji firman Tuhan kita akan mampu menguasai diri dalam menghadapi apa pun, bertindak dan berpikir selaras dengan firman-Nya... saat itulah kita akan merasakan ketenangan.  "Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."  (1 Petrus 4:7b).  Meningkatkan jam doa itu kuncinya!

"Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu."  Mazmur 116:7

Wednesday, January 18, 2017

SEMUA YANG DI BAWAH MATAHARI ADALAH SIA-SIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Januari 2017

Baca:  Pengkhotbah 1:1-11

"Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia."  Pengkhotbah 1:2

Uang, kekayaan, jabatan, pangkat dan juga popularitas adalah perkara-perkara yang selalu dikejar oleh semua orang yang ada di muka bumi ini.  Ketika seseorang memiliki semuanya itu ia berpikir hidupnya sudah lengkap dan tak ada yang patut dikuatirkan lagi, karena dunia selalu mengukur dan menilai keberhasilan hidup seseorang dari apa yang dimiliki atau yang tampak oleh mata jasmaniah, padahal semuanya itu hanya bersifat sementara dan sampai kapan pun takkan pernah memberikan kepuasan, sebab  "...mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar."  (ayat 8).

     Bukan kebetulan jika kitab ini ditulis oleh Salomo,  "...anak Daud, raja di Yerusalem."  (ayat 1).  Alkitab menyatakan bahwa  "Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat."  (1 Raja-Raja 10:23).  Salomo adalah raja yang memiliki segalanya:  kekayaan, jabatan dan juga popularitas.  Meski demikian hal itu tidak serta merta membuatnya bangga, justru ia berkata,  "...kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia."  (ayat nas).  Pada hakekatnya segala sesuatu yang dimiliki dan dibangun oleh manusia akan berakhir dengan kesia-siaan.  "Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin."  (Pengkhotbah 1:14).  Dalam hal hikmat,  "...hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir."  (1 Raja-Raja 4:30).  Dengan harta dan kekayaan yang melimpah, secara teori Salomo dapat mengalami kebahagiaan hidup, karena apa yang diinginkan dan kehendaki bisa terpenuhi.  Namun ternyata Salomo tidak menemukan kebahagiaan dan kepuasan yang sejati.  "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia."  (Pengkhotbah 5:9-10).

     Banyak orang ingin mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan dengan cara mengkonsumsi narkoba, pergi ke dunia malam dan sebagainya, namun ruang hati mereka tetap kosong dan gersang, bahkan hidup mereka semakin hancur.

Hidup tanpa takut akan Tuhan adalah sia-sia belaka;  "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"  Matius 16:26

Tuesday, January 17, 2017

DOA DI KALA MALAM (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Januari 2017

BacaMazmur 119:57-64

"Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil."  Mazmur 119:62

Setelah bekerja atau beraktivitas seharian memang tubuh terasa capai dan penat;  meski demikian kita harus tetap paksakan tubuh ini untuk berdoa.  Jika hari ini kita beroleh kekuatan dan kesehatan sehingga semua tugas dan pekerjaan dapat kita selesaikan dengan baik, kita berangkat ke tempat kerja dan pulang bertemu keluarga kembali dalam keadaan selamat, tidakkah kita ingat semuanya itu karena siapa?  Tuhan Yesus mengingatkan,  "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  (Yohanes 15:5b).  Selagi tidak ada kebisingan dan gangguan dari siapa pun, malam hari adalah saat yang tepat berlutut di hadapan Tuhan dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya.  Pada waktu tidak terdengar suara dari yang lain kita dapat mempertajam pendengaran kita untuk mendengar suara Tuhan berbicara kepada kita.  Selain itu kita mengucap syukur kepada Tuhan atas campur tangan-Nya di sepanjang hari yang telah kita jalani.  Berkat, kesehatan, kekuatan, penyertaan, perlindungan yang kita nikmati di sepanjang hari adalah datangnya dari Tuhan, karena itu  "...janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!"  (Mazmur 103:2).

     Sebelum menentukan pilihan yang tepat untuk memilih dua belas orang yang dipanggil untuk menjadi murid-murid-Nya, yang juga disebut-Nya rasul, Tuhan Yesus pergi ke bukit untuk berdoa, bahkan  "...semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah."  (Lukas 6:12).  Artinya dalam segala hal Tuhan Yesus selalu melibatkan Bapa, menyerahkan semua pergumulan yang dihadapi-Nya kepada Bapa, karena kehendak Bapa adalah yang terutama dalam kehidupan Tuhan Yesus.  Sepadat apa pun jadwal pelayanan-Nya di bumi Tuhan Yesus tidak pernah mengesampingkan doa, bahkan di tengah malam sekalipun Tuhan Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa.

     Segala pergumulan yang berat dapat terselesaikan dan berakhir dengan kemenangan yang gamblang apabila kita mau membayar harga, yaitu keluar dari zona nyaman daging kita untuk berdoa.  Ingat kisah ini:  saat berada di dalam penjara di Filipi,  "...kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah..."  (Kisah 16:25), perkara yang dahsyat pun terjadi!

Jangan pernah melewatkan hari tanpa membangun persekutuan dengan Tuhan!

Monday, January 16, 2017

DOA DI KALA MALAM (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Januari 2017

BacaMazmur 42:1-12

"TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku."  Mazmur 42:9

Banyak orang percaya seringkali mengalami kesulitan jika harus bangun pagi-pagi sekali untuk berdoa karena berbagai alasan misal terburu-buru harus berangkat ke kantor atau sekolah karena jalanan macet.  Sarapan saja tiada sempat apalagi menyediakan waktu khusus untuk berdoa.  Terlebih bagi mereka yang tinggal di kota besar, di mana roda kehidupan serasa berputar sedemikian cepatnya.  Mereka seolah-olah dikejar-kejar waktu, disibukkan dengan tugas dan pekerjaan sampai-sampai waktu, jam, hari, minggu dan bulan sudah ter-setting dengan segudang jadwal atau agenda kerja.  Dari pagi hingga larut malam rasa-rasanya tiada lagi waktu yang tersisa, 24 jam dalam sehari serasa tidak cukup.

     Apakah hanya karena terlalu sibuk dengan berbagai aktivitas lalu menjadi alasan untuk kita tidak berdoa?  Sibuk boleh, tetapi jangan sampai perkara-perkara yang sifatnya duniawi semakin menjauhkan kita dari hadirat Tuhan.  Itulah yang Iblis ingini dari kita:  supaya kita memanjakan daging dengan menuruti segala keinginannya, di mana perlahan tapi pasti kita pun masuk dalam jeratnya sehingga hal itu memudahkan dia untuk menerkam kita, sebab  "...si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).  Justru dalam kesibukan yang semakin padat seharusnya kita semakin mendekat kepada Tuhan atau mempunyai waktu lebih banyak untuk bersekutu dengan-Nya, supaya semua tugas dan pekerjaan dapat kita kerjakan dengan tuntunan hikmat Tuhan.  Semakin sibuk atau semakin banyak pekerjaan justru kita makin membutuhkan penyertaan Tuhan di setiap langkah hidup kita.

     Kalau di pagi hari sampai sore ada banyak sekali kendala atau hambatan sehingga kita tidak bisa berdoa, kita bisa mencari alternatif waktu yang lain yaitu berdoa di malam hari.  Kalau Roh Kudus memimpin hidup kita dan kita mau dipimpin oleh Roh Kudus, sesibuk apa pun kita pasti menyediakan waktu untuk berdoa, di tengah malam sekalipun.  Justru di saat-saat yang hening dan sunyi hati dan pikiran kita bisa lebih terfokus kepada Tuhan tanpa adanya gangguan.

Tuhan Yesus bertanya,  "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?"  Matius 26:40b

Sunday, January 15, 2017

KEKUATAN DAHSYAT DI BALIK DOA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Januari 2017

BacaYakobus 5:13-18

"Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!"  Yakobu 5:13

Sering timbul di benak kita pertanyaan:  sanggupkah kita menghadapi hari depan?  Jawabannya:  tidak sanggup jika mengandalkan kekuatan sendiri, karena sehebat, sekuat, sepintar atau sekaya apa pun seseorang, kekuatannya sangatlah terbatas.  Tidak bisa tidak, kita membutuhkan kekuatan yang berasal dari luar diri kita agar kuat berdiri di tengah terpaan badai kehidupan yang kian mengganas ini.  Kekuatan yang kita butuhkan adalah kekuatan adikodrati atau kekuatan yang melebihi atau di luar kodrat alam, supranatural, yang hanya kita peroleh melalui doa atau persekutuan karib dengan Tuhan.

     Tidak sedikit orang percaya menganggap remeh dan sepele kekuatan doa.  Alkitab menyatakan:  "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.  Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya."  (Yakobus 5:16b, 17, 18).  Doa menghadirkan kuasa Tuhan yang tak terbatas atas diri manusia yang terbatas.  Kekuatan doa sanggup menembus kemustahilan!  Ketika Elia berdoa supaya tidak turun hujan, hujan pun tidak turun di bumi selama 3,5 tahun, dan ketika ia berdoa meminta hujan kepada Tuhan langit pun menurunkan hujan.  Doa adalah senjata ampuh mengalahkan musuh dalam bentuk apa pun:  masalah atau pencobaan;  doa mampu menggetarkan hati Tuhan sehingga Ia bertindak memberikan pertolongan dan menyembuhkan segala macam sakit-penyakit.

     Supaya doa kita berkuasa dan mendatangkan kekuatan, kuncinya adalah kita harus dalam posisi benar di hadapan Tuhan, dosa harus dibereskan, karena dosa adalah penghalang utama doa sampai ke hadirat Tuhan.  "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."  (Yesaya 59:1-2).

"TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya."  Amsal 15:29

Saturday, January 14, 2017

BEKERJA GIAT DI LADANG TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Januari 2017

BacaLukas 10:1-12

"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."  Lukas 10:2

Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk bekerja di ladang-Nya, dan dunia ini adalah ladang yang Ia percayakan untuk digarap.  Tidaklah cukup orang percaya hanya tampak rajin beribadah ke gereja saja;  kita harus lebih dari itu, yaitu punya hati yang terbeban untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan terlibat di dalamnya.  Kita harus memiliki roh yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan, bukan hanya puas menjadi jemaat yang pasif tanpa melakukan apa-apa.  "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  (Roma 12:11).

     Selagi ada waktu dan kesempatan kita harus melayani Tuhan dengan sekuat tenaga, bekerja bagi Dia tanpa kenal lelah.  Mengapa?  Karena Tuhan Yesus sendiri telah memberikan sebuah teladan bagaimana Ia bekerja dan melayani.  Seluruh keberadaan hidup-Nya dipersembahkan untuk mengerjakan tugas Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib.  Tuhan Yesus memperingatkan,  "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."  (Yohanes 6:27).  Mengingat sedikit waktu lagi kedatangan Tuhan yang kedua kali akan tiba, maka sisa waktu yang ada hendaknya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk bekerja bagi Tuhan.  Renungkan:  untuk membuat sepotong kue diperlukan banyak pekerja;  kalau kue yang kelihatannya sepele, yang sekali makan langsung habis memerlukan begitu banyak orang yang terlibat untuk membuatnya, apalagi pekerjaan memberitakan Injil ke seluruh pelosok, suku, bangsa, kaum dan bahasa di seluruh dunia, bukankah diperlukan lebih banyak pekerja?

     Tuaian di luar sana begitu banyak, tetapi sayang pekerja sangat sedikit alias tidak sebanding.  Kita tidak mungkin hanya mengandalkan para pendeta atau fulltimer yang bekerja, karena sebesar apa pun energi yang mereka keluarkan tidak akan mencukupi.

"Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."  Yohanes 9:4

Friday, January 13, 2017

BERTAHAN DI TENGAH GONCANGAN DUNIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Januari 2017

BacaMazmur 46:1-12

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti."  Mazmur 46:1

Semua orang mengakui bahwa keadaan dunia bertambah hari tidak bertambah baik, goncangan demi goncangan terjadi di mana-mana,  "Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang,..."  (ayat 7).  Perilaku manusia pun semakin tak terkendali karena mereka tidak lagi memiliki hati yang takut akan Tuhan.  Haruskah orang percaya terbawa arus dunia ini?  "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus."  (Ibrani 2:1).  Jika kita berusaha untuk menjadi  'serupa'  dengan dunia maka hidup kita tidak lagi memiliki pengaruh, alias gagal menjadi garam dan terang dunia.  Justru di tengah goncangan dan degradasi moral seperti inilah dibutuhkan orang-orang yang berani membuat perbedaan.

     Tugas itu ada di pundak kita sebagai orang percaya yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib  (baca  1 Petrus 2:9).  "Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung."  (2 Petrus 1:10).  Memang untuk menjadi pribadi yang berbeda tidaklah mudah, ada banyak tekanan dan tantangan yang selalu mencoba untuk menghadang langkah kita.  Bagaimana supaya kita dapat bertahan dan tetap aman?  Senantiasalah berpaut kepada Tuhan.  "Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut pada-Nya,"  (Ulangan 11:22), maka  "Tidak ada yang akan dapat bertahan menghadapi kamu:"  (Ulangan 11:25).

     Berpaut kepada Tuhan berarti memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan terus melekat kepada-Nya.  Inilah janji Tuhan terhadap orang-orang yang berpaut kepada-Nya,  "...Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya."  (Mazmur 91:14-15).

"TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub."  Mazmur 46:12

Thursday, January 12, 2017

HIDUP KUDUS MUTLAK BAGI ORANG PERCAYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Januari 2017

BacaMazmur 99:1-9

"Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!"  Mazmur 99:9

Bapa yang kita sembah, yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus, adalah kudus adanya.  Dialah Yehovah M'kaddeshem  (Tuhan yang menyucikan).  Sebagai orang percaya yang dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, kita,  "...yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan."  (1 Petrus 2:10), adalah bagian dari keberadaan-Nya yang Ilahi, yaitu kehidupan kudus yang memisahkan kita dari dunia.  "tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."  (1 Petrus 1:15-16).  Banyak orang mengaku diri sebagai pengikut Kristus tetapi tingkah mereka tidak beda dari dunia.  Jelas ini bertentangan dengan kehendak Tuhan!

     Di dalam Perjanjian Lama Tuhan telah menyatakan kekudusan-Nya kepada bangsa Israel dengan memberikan mereka segala hukum-hukum-Nya:  "Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus."  (Imamat 11:45).  Mengapa kita harus hidup kudus?  "...sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan."  (Ibrani 12:14).  Yesus Kristus telah datang untuk menggenapi rencana Bapa, yaitu menyucikan orang yang percaya kepada-Nya dan akan memberikan hati yang baru  (Yehezkiel 36:26).  Lebih dari itu Ia membebaskan kita dari segala ikatan dosa dan dari setiap tipu daya Iblis;  dan karena kita sudah dibarui dan disucikan dalam nama-Nya dengan baptisan air, maka tubuh kita menjadi Bait Roh Kudus, di mana Ia berdiam dengan Roh-Nya.

     Kini kita tidak lagi menjadi hamba dosa seperti dahulu, melainkan menjadi hamba kebenaran  (baca  Roma 6:18), sehingga tubuh kita adalah korban yang hidup bagi Tuhan.  Karena itu kita harus memancarkan kekudusan Kristus kepada dunia ini melalui perkataan, sikap dan perbuatan kita sehari-hari.  Inilah yang disebut life style evangelism  (evangelisasi dengan contoh gaya hidup).

"...kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu."  Imamat 20:7

Wednesday, January 11, 2017

KEHIDUPAN KRISTEN ROHANI/DEWASA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Januari 2017

Baca1 Korintus 13:11-12

"Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu."  1 Korintus 13:11b

Kehidupan Kristen rohani atau dewasa tidak terjadi secara otomatis, tetapi perlu proses dan waktu.  Sebagaimana tubuh jasmani manusia memerlukan makanan yang bergizi setiap hari, begitu pula manusia rohani kita juga memerlukan makanan rohani yang seimbang supaya dapat bertumbuh secara utuh dan sempurna,  "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,"  (Efesus 4:13).

     Makanan sehat untuk manusia rohani adalah  'susu'"Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,"  (1 Petrus 2:2),  'roti'"Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."  (Matius 4:4),  'makanan keras'"Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa,"  (Ibrani 5:14), dan  'madu'"Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku."  (Mazmur 119:103).  Jangan berpikir bahwa rajin datang ke gereja dan memberikan persembahan sudah cukup sebagai modal untuk bertumbuh, melainkan harus mau berproses yaitu  'tinggal'  di dalam firman Tuhan:  menyediakan waktu untuk mendengarkan, membaca, mempelajari/menyelidiki, merenungkan dan mempraktekkan firman Tuhan, sebab  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).

     Kuasa firmanlah yang akan mengubah seluruh perspektif hidup kita, dari hidup yang berpusat pada diri sendiri kepada hidup yang berpusat kepada Tuhan;  tidak lagi berorientasi kepada perkara duniawi melainkan kepada perkara yang bernilai kekal.  Inilah tanda kedewasaan rohani seseorang yaitu senantiasa haus dan lapar akan kebenaran firman Tuhan.  Dalam mengatasi masalah hidup pun ia tidak lagi mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi senantiasa meminta hikmat dari Tuhan dan melibatkan Dia.

"...supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah."  Kolose 4:12

Tuesday, January 10, 2017

KEHIDUPAN KRISTEN BAYI/KANAK-KANAK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Januari 2017

BacaIbrani 5:11-14

"Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras."  Ibrani 5:12

Rasul Paulus menjelaskan bahwa Kristen bayi adalah orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menerima makanan keras.  "Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya."  (1 Korintus 3:2).  Kerohanian yang demikian disebut kerohanian yang jalan di tempat, tidak bertumbuh alias kerdil karena tidak memiliki pengetahuan yang utuh tentang kebenaran.  Inginnya firman Tuhan yang lembut, manis dan enak didengar telinga.  Begitu mendengar firman yang keras langsung berontak, marah, tersinggung, mogok.  Ini sangat berbahaya, karena mereka rentan sekali disesatkan oleh ajaran lain yang menyimpang, sebab pengetahuan tentang kebenaran masih sangat dangkal.  Perlu sekali kita belajar dari jemaat di Berea:  "...mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."  (Kisah 17:11).

     Kekristenan tingkat bayi/kanak-kanak cukup puas sebagai  'penonton', bukan pelaku pertandingan, ingin dilayani tapi tidak mau terlibat dalam pelayanan.  Di masa-masa akhir ini kita banyak melihat dan mendengar ada banyak sekali ajaran-ajaran yang menyesatkan dan banyak orang menjadi pengikutnya.  Ajaran itu memang tampaknya baik, tetapi kita harus ingat segala sesuatu yang baik belum tentu benar dan sesuai dengan kebenaran Injil.  Di mata Tuhan ukurannya adalah kebenaran, bukan kebaikan menurut penilaian manusia.  Berhati-hatilah!  "Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang."  (2 Korintus 11:14).

     Tuhan Yesus sudah memperingatkan kita,  "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:41).  Bila kita senantiasa berjaga dan berdoa tidak mudah diperdaya oleh orang yang datang membawa nama Tuhan atau mengaku diri sebagai mesias  (baca  Matius 24:5).

Kekristenan yang masih bayi atau kanak-kanak itu rawan karena sangat mudah diombang-ambingkan oleh arus dunia!

Monday, January 9, 2017

KEHIDUPAN KRISTEN DUNIAWI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Januari 2017

Baca1 Korintus 3:1-3

"Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus."  1 Korintus 3:1

Rasul Paulus menegaskan bahwa tingkat kerohanian seorang Kristen terbagi menjadi 3 kategori:  Kristen duniawi, Kristen bayi  (kanak-kanak)  dan Kristen rohani  (dewasa).  Kata kamu yang dimaksudkan oleh Paulus  (ayat nas)  merujuk kepada jemaat Tuhan yang ada di kota Korintus.  Sudah lama menjadi Kristen tidak menjadi jaminan bahwa seseorang memiliki kehidupan rohani yang mumpuni, karena ada banyak orang Kristen yang kualitas hidupnya tidak jauh berbeda dengan orang-orang di luar Tuhan, sehingga hidupnya bukannya menjadi berkat bagi orang lain tapi menjadi batu sandungan.

     Kristen duniawi.  Istilah duniawi dalam ayat ini diterjemahkan dari kata Yunani sarkikos, yang akar katanya adalah sark yang berarti:  tubuh jasmaniah, materialistik, fana, secara harafiah bisa diartikan suatu kehidupan yang dikendalikan oleh daging.  Bukankah ada banyak orang yang menyandang status sebagai pengikut Kristus  (Kristen)  namun tetap saja memiliki tabiat duniawi.  Hal itu menunjukkan bahwa ia masih hidup sebagai manusia  'lama', belum sepenuhnya menanggalkan dan masih hidup menurut keinginan daging, bukan menurut pimpinan Roh Kudus, sehingga orientasi hidupnya hanya berpusat kepada hal-hal yang duniawi.  Begitu juga ketika dihadapkan pada masalah, orang Kristen duniawi cenderung menyelesaikannya dengan cara-cara dunia yaitu mengandalkan kekuatan, kemampuan dan kepintaran sendiri, serta menaruh harapan kepada manusia.

     Bagaimana supaya kedagingan atau sifat duniawi itu tidak lagi mendominasi dalam hidup kita?  Tidak ada jalan lain selain kita harus berani membayar harga, keluar dari zona nyaman, dan tunduk sepenuhnya kepada Roh Kudus.  "Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging."  (Galatia 5:16).  Kemauan untuk tunduk di bawah pimpinan Roh Kudus adalah sarana memperoleh kemampuan untuk menanggalkan manusia  'lama', karena dengan kekuatan sendiri kita takkan bisa melakukannya.  Demikianlah, kita harus mau berproses seumur hidup kita!

"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi..."  Kolose 3:5

Sunday, January 8, 2017

MANUSIA DUNIAWI ATAU MANUSIA ROHANI?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Januari 2017

Baca1 Korintus 2:6-16

"Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain."  1 Korintus 2:14-15

Segala sesuatu yang ada di dunia ini dikategorikan berdasarkan keberadaannya.  Contoh:  suatu barang dikategorikan sebagai barang yang berharga mahal apabila barang tersebut terbuat dari bahan yang berkualitas, dibuat dengan tingkat kesulitan yang tinggi, dan memiliki manfaat yang besar atau bernilai guna.  Pula keberadaan seluruh umat manusia yang ada di bumi, ditinjau dari sudut kerohanian, dikategorikan menjadi dua bagian yaitu manusia duniawi dan manusia rohani.

     Manusia duniawi adalah orang yang belum mengalami  'kelahiran baru'  di dalam Kristus, yang hidupnya masih diperbudak oleh kedagingan dan hawa nafsunya karena berada di bawah kuasa dari si jahat.  Itulah sebabnya mereka disebut orang dunia karena hidup mengikuti pola dunia sepenuhnya, sehingga mereka menolak hal-hal yang berasal dari Roh.  "...manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan;"  (ayat nas), karena mereka tidak memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan dan jalan-jalan-Nya.  Mereka hidup dengan bersandar kepada pengertian dan kekuatan sendiri, sebab tidak ada Roh Kudus di dalam hidupnya.

     Manusia rohani adalah mereka yang sudah mengalami  'kelahiran baru'  di dalam Kristus.  Ketika seseorang dengan iman menerima keselamatan yang disediakan melalui Kristus, saat itu ia mengalami kelahiran baru dan hidup sebagai manusia rohani.  "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu...Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu..."  (Yehezkiel 36:26-27).  Sebagai manusia rohani ia akan senantiasa berpikiran rohani dan memandang segala sesuatu dari sudut pandang rohani karena mau tunduk kepada pimpinan Roh Kudus.  Jadi langkah awal bagi setiap orang untuk dapat masuk ke dalam dimensi baru sebagai  'manusia rohani'  adalah percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat hidupnya.

Sebagai orang percaya kita masuk kategori manusia rohani, sudah seharusnya kita menunjukkan kualitas hidup yang rohaniah, bukan duniawiah!                   

Saturday, January 7, 2017

TIDAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK BERBUAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Januari 2017

BacaMatius 3:1-12

"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  Matius 3:8

Yohanes Pembaptis telah menyampaikan firman Tuhan kepada orang-orang yang datang kepadanya untuk dibaptis supaya mereka jangan hanya berhenti menjadi orang Kristen dan kemudian dibaptis saja, tetapi mereka harus melangkah ke tahap selanjutnya yaitu mengeluarkan buah-buah kehidupan yang berpadanan dengan Injil, sebab jika hidup orang Kristen tidak berbuah, maka  "Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api."  (ayat 10), sebab bukan orang yang berseru Tuhan, Tuhan...yang akan masuk Kerajaan Sorga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa  (baca  Matius 7:21).  Melakukan kehendak Bapa ini berbicara tentang buah!

     Dalam perumpamaan pokok anggur yang benar dikatakan:  "Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah."  (Yohanes 15:2).  Proses pembersihan disebut proses pembentukan dan Tuhan memiliki banyak cara untuk membentuk kita, bisa melalui masalah, hajaran atau situasi padang gurun.  Pembentukan itu bertujuan untuk mendisiplinkan kita dan menarik kita semakin mendekat kepada-Nya.  Kunci untuk berbuah adalah tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya;  bahkan untuk menegaskan hal ini kata tinggal ditulis sampai 10x dalam sepuluh ayat pertama dalam Yohanes pasal 15.  Jadi menghasilkan buah adalah kehendak Tuhan bagi orang percaya yang bersifat mutlak, sebab melalui buah yang dihasilkan, kekristenan seseorang dapat dilihat dan dinilai oleh dunia.  "Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka."  (Matius 7:20).

     Buah-buah apa yang harus dihasilkan?  1.  Buah jiwa.  Berbicara tentang seberapa jauh kehidupan kita berdampak bagi orang lain atau lingkungan.  2.  Buah memberi.  Pengorbanan yang kita berikan kepada Tuhan:  waktu, tenaga, pikiran, dan uang  (materi)  adalah buah-buah yang dapat mendukung Injil diberitakan.  3.  Buah Roh.  Orang yang tinggal di dalam firman Tuhan pasti merefleksikan tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, karakter Ilahi akan terpancar  (baca  Galatia 5:22-23a).

"Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik...supaya hidup mereka jangan tidak berbuah."  Titus 3:14

Friday, January 6, 2017

BAGAI POHON ARA YANG TIDAK BERBUAH (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Januari 2017

BacaLukas 13:6-9

"Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya."  Lukas 13:7a

Dalam Alkitab seringkali pohon dipakai untuk melukiskan keadaan manusia.  Orang yang kesukaannya merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, menghasilkan buahnya pada musimnya, tidak layu daunnya, apa saja yang diperbuatnya berhasil  (baca  Mazmur 1:2-3);  orang yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, tidak mengalami datangnya panas terik, daunnya tetap hijau, tidak kuatir dalam tahun kering, tidak berhenti menghasilkan buah  (baca  Yeremia 17:8).

     Pada bacaan hari ini tiga tahun lamanya pemilik kebun mencari buah pada pohon ara miliknya, tapi tidak menemukannya.  Tahun pertama:  tidak ada buah masih bisa dimaklumi, mungkin pohon itu masih terlalu muda untuk berbuah;  tahun kedua:  belum ada buah, mungkin masih kurang pupuk atau ada batu-batu yang harus disingkirkan atau tanah perlu dicangkul supaya gembur;  tahun ketiga:  tetap saja tidak berbuah, padahal segala usaha sudah dilakukan.  Jadi yang menjadi masalah bukan kurang diperhatikan, tapi pohon ara itu sendiri.  Inilah gambaran hidup orang percaya, yaitu orang-orang non Yahudi, yang karena iman percaya kepada Yesus beroleh kasih karunia-Nya:  dipilih, diselamatkan dan diangkat menjadi anak-anak-Nya,  "yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain, seperti yang difirmankan-Nya juga dalam kitab nabi Hosea: 'Yang bukan umat-Ku akan Kusebut: umat-Ku dan yang bukan kekasih: kekasih.' Dan di tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka: 'Kamu ini bukanlah umat-Ku,' di sana akan dikatakan kepada mereka: 'Anak-anak Allah yang hidup.'"  (Roma 9:24-26).

     Jadi, kita yang hidup di bawah kasih karunia Tuhan, artinya hidup dengan perlakuan istimewa dari Tuhan, dituntut menghasilkan buah.  "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."  (Yohanes 15:8).

Tidak berbuah berarti telah menyia-nyiakan kasih karunia yang telah Tuhan berikan kepadanya!

Thursday, January 5, 2017

BAGAI POHON ARA YANG TIDAK BERBUAH (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Januari 2017

BacaLukas 13:6-9

"Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya."  Lukas 13:6

Daerah Palestina dikenal sebagai wilayah pegunungan yang subur.  Itulah sebabnya di sana banyak dijumpai berbagai tanaman buah-buahan, seperti pohon zaitun, pohon delima, pohon anggur, termasuk pohon ara juga bertumbuh dengan subur di sana.  Pohon zaitun, pohon anggur dan pohon ara adalah tiga jenis pohon yang sering disebut di Alkitab.

     Pohon ara adalah tanaman asli Asia barat daya, Israel, Siria dan Mesir.  Pohon ini terkenal memiliki umur yang sangat panjang karena kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai jenis tanah, bahkan pohon ini dapat tumbuh dengan baik di tanah yang berbatu-batu sekalipun.  Tinggi pohon ara dapat mencapai kira-kira 9 m dengan diameter batang kira-kira 0,6 m, dan memiliki cabang-cabang yang melebar;  dan karena memiliki daun yang lebarnya bisa mencapai 20 cm atau lebih, pohon ini bisa digunakan untuk berteduh atau bernaung.  Adapun manfaat buah ara adalah sebagai sumber makanan pokok pada zaman Alkitab dan pada zaman sekarang di beberapa negeri Timur Tengah;  bisa juga dijadikan kue ara kering yang praktis bisa dibawa ke mana-mana sebagai bekal.  Kue ara juga bisa dipakai untuk pengobatan  (baca  2 Raja-Raja 20:7).

     Pohon ara yang dimaksudkan dalam perikop ini berbeda dengan pohon ara yang Tuhan Yesus jumpai di tepi jalan ketika Ia bersama dengan murid-murid-Nya melakukan perjalanan dari Betania ke Yerusalem, yang karena tidak menghasilkan buah dikutuk Tuhan:  "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu."  (Matius 21:19).  Sedangkan dalam perumpamaan ini yang dimaksudkan sebagai  'pohon ara'  dalam teks adalah tin  (Ficus carica), sejenis ara yang berasal dari wilayah Laut Tengah yang buahnya dapat dimakan.  Pohon ini dipilih secara khusus dan diperlakukan teramat istimewa oleh pemilik kebun:  ditanam di kebun anggur, tanah sekeliling dicangkul dan dibuang batu-batunya, serta diberinya pupuk yang cukup, dengan harapan pohon itu tumbuh dengan baik dan berbuah lebat.  Hasilnya?  Pohon ara itu tetap saja tidak menghasilkan buah.  Ini mengingatkan kita tentang nyanyian Yesaya tentang kebun anggur  (baca  Yesaya 5:1-7), yang meski sudah dirawat sedemikian rupa hanya menghasilkan buah anggur yang asam.  Sungguh mengecewakan!  (Bersambung)

Wednesday, January 4, 2017

BERANILAH BERMIMPI BESAR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Januari 2017

BacaYesaya 54:1-17

"Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau."  Yesaya 54:10

Ada kalimat bijak mengatakan,  "Seorang pemenang adalah pemimpi yang tak pernah menyerah."  Artinya jika ingin berhasil kita harus memiliki impian yaitu gambaran dari keberhasilan yang ingin diraih di masa depan.  Impian akan mendorong orang untuk berusaha dan berjuang, sampai impian menjadi sebuah kenyataan, sebab impian tidak akan terwujud melalui magic, tapi perlu usaha yang keras dan determinasi.

     Ada banyak orang berpikiran bahwa bermimpi besar adalah suatu kesombongan.  Tidak!  Justru Tuhan akan melakukan perkara-perkara besar bagi mereka yang memiliki impian besar, contohnya adalah Yusuf.  Keberhasilan Yusuf menjadi penguasa di Mesir berasal dari sebuah impian meski ia harus melewati proses yang panjang.  Tuhan Yesus berkata,  "...sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi."  (Matius 21:21).  Impian yang besar akan memperbesar iman kita pula sehingga kita akan menerima hasil sebesar iman tersebut.  Perhatian!  Pohon akan tumbuh sesuai dengan ukuran tempatnya:  jika pohon ditanam ditempat yang besar pohon itu akan bertumbuh besar, sebaliknya jika pohon itu hanya ditanam di pot yang kecil, pertumbuhannya pun akan terbatas.  Ingin usaha atau pelayanan kita makin diperluas, mau tidak mau, kapasitas diri kita pun harus diperbesar!  Jadi, beranilah untuk membayar harga:  berkorban waktu, tenaga, dan pikiran yang lebih besar lagi.

     Dunia ini terus berubah dari waktu ke waktu, maka kita pun dituntut untuk mengikuti perubahan itu dengan terus meng-upgrade diri... jika tidak, kita akan semakin jauh tertinggal.  Karena itu  "...panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!"  (Yesaya 54:2):  tali tanggung jawab, tali kejujuran, tali ketekunan, tali kesetiaan, tali kerja keras, harus makin diperpanjang, serta diikatkan pada patok yang kuat.  Patok itu adalah Tuhan, Gunung Batu yang teguh.

Berani bermimpi berarti kita juga harus berani untuk membayar harga!

Tuesday, January 3, 2017

JANJI PEMULIHAN DARI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Januari 2017

BacaYesaya 54:1-17

"Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!"  (Yesaya 54:2)

 Di setiap memasuki awal tahun yang baru semua orang pasti memiliki rencana, harapan dan juga impian yang baru pula.  Besar harapan bahwa kegagalan-kegagalan yang menimpa di tahun sebelumnya tidak akan terulang kembali.  Kita rindu hari-hari yang kita jalani nanti dipenuhi oleh keberhasilan atau kesuksesan di segala bidang.  Namun perlu disadari bahwa prinsip keberhasilan atau kesuksesan bagi orang percaya itu tidak dapat dilepaskan dari campur tangan Tuhan, karena itu andalkan Tuhan dalam segala hal.

     Yesaya pasal 54 ini merupakan suatu pembaharuan perjanjian  (recovenant)  antara Tuhan dengan umat pilihan-Nya  (bangsa Israel)  pasca kepulangan mereka dari pembuangan di Babel selama 70 tahun.  Waktu itu mereka menghadapi pergumulan yang berat:  berkurangnya keturunan sebagai ahli waris di negeri perjanjian  (ayat 1)  dan mengenai pembagian atau tata letak tanah warisan yang menjadi hak mereka  (ayat 3).  Dalam pembaharuan perjanjian ini Tuhan memberi semangat kepada orang-orang buangan itu dengan menjanjikan pemulihan, yaitu keadaan baru yang mendatangkan berkat dan sukacita.  Tuhan berjanji akan memulihkan keadaan mereka yaitu keturunan yang berjumlah lebih banyak daripada sebelum pembuangan, dan juga perluasan wilayah.  "...engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi."  (ayat 3).

     Perihal janji pemulihan Tuhan ini bukan hanya berlaku bagi bangsa Israel yang hidup di zaman itu, tapi juga berlaku bagi semua orang percaya yang adalah  'Israel-Israel'  rohani.  Bukankah setiap kita memiliki keinginan untuk mengalami kemajuan di segala segi kehidupan ini?  Jika ingin mengalami pemulihan, usaha makin luas, dan pelayanan kian bertumbuh serta berdampak, maka hal utama yang harus kita lakukan adalah fokus kepada Pribadi Tuhan, bukan pada berkat atau perluasan itu, sehingga akan semakin mendorong kita untuk lebih mendekat kepada Tuhan.

"Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu."  Mazmur 119:38

Monday, January 2, 2017

MASA DEPAN BAGI ORANG PERCAYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Januari 2017

BacaAmsal 23:1-35

"Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang."  Amsal 23:18

Melihat keadaan dunia saat ini yang unpredictable sangatlah wajar bila banyak orang mengalami ketakutan dan kekuatiran tentang hidup mereka di masa depan.  Dengan nada pesimis mereka berkata,  "Tidak ada masa depan, masa depan semakin suram!"

     Seburuk apa pun situasi yang sedang terjadi kita harus tetap optimis, sebab masa depan itu sungguh ada dan harapan itu tidak akan hilang  (ayat nas).  Janji firman Tuhan adalah jaminan kita.  "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  (Yeremia 29:11).  Kita percaya bahwa  "...tidak ada rencana-Mu yang gagal."  (Ayub 42:2).  Ketika umat Israel merasa tidak yakin akan masa depannya, merasa mustahil dapat menyeberangi sungai Yordan, Yosua menguatkan mereka bahwa Tuhan pasti melakukan perbuatan ajaib asal mereka mau menguduskan diri.  "Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu."  (Yosua 3:5).  Mungkin kita mengalami jalan buntu, tapi percayalah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.  "Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air samudera raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?"  (Yesaya 51:10).  Masa depan yang penuh harapan akan menjadi bagian kita asal kita mau menguduskan diri, tidak menjamah apa yang najis.

     Menguduskan diri bukan berarti harus mencapai tingkatan rohani tertentu atau mencapai kesempurnaan, namun yang terutama sekali kita harus punya rasa haus dan lapar akan perkara-perkara rohani, mengingini Tuhan lebih dari apa pun.  "Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi."  (Mazmur 73:25).  Masa depan yang penuh harapan bukan sekedar ilusi atau angan-angan bagi orang-orang yang senantiasa merindukan Pribadi-Nya, yang mau membayar harga dengan menanggalkan semua beban dosa dan melepaskan ikatan persahabatan dengan dunia ini!

Hidup dalam kekudusan  (kesucian)  adalah langkah menuju kehidupan yang berkemenangan dan bermasa depan cerah!

Sunday, January 1, 2017

TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Januari 2017

BacaPengkhotbah 3:1-15

"Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia."  Pengkhotbah 3:14

Hari ini kita berada di awal tahun, artinya  'musim'  kehidupan yang baru sedang dan akan kita jalani.  Musim tahun 2016 telah kita lewati dengan aneka nuansa:  keberhasilan, kegagalan, sukacita, dukacita, tawa dan tangis.  Tanpa penyertaan Tuhan kita takkan mampu melewati hari-hari sepanjang tahun 2016.  Karena itu bersyukurlah kepada Tuhan, karena Dialah kita dapat menanggung segala perkara.

     Siapakah kita menghadapi  'musim'  tahun 2017?  Di segala musim kehidupan Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu ada untuk kita.  Ingatlah selalu bahwa ada hukum yang berlaku di bawah kolong langit yaitu hukum tabur-tuai.  Ada musim untuk menabur dan ada musim untuk menuai.  "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."  (Galatia 6:8).  Sebelum menanam benih petani harus terlebih dahulu mencangkul tanahnya, mengairi, dan juga menyingkirkan segala sesuatu yang dapat menghambat benih itu bertumbuh, seperti batu-batu atau gulma, barulah ia menabur benih.  Saat menabur benih petani harus kehilangan sesuatu karena harus merelakan benih itu ditanam;  jika benih tetap berada di tangan dan tidak ditabur, benih itu akan tetap sama jumlahnya.  "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah."  (Yohanes 12:24).

     Untuk menuai petani harus menunggu dalam waktu yang tidak singkat:  butuh kesabaran, kesetiaan dan ketekunan.  Ada tertulis:  "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik,"  (1 Petrus 3:10-11).  Kalau kita mampu melewati proses ini kita pasti akan menuai, sebab  "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,"  (Pengkhotbah 3:11).

"Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai."  Mazmur 126:5