Sunday, November 23, 2014

ORANG KAYA: Sukar Masuk Sorga (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 November 2014

Baca:  Markus 10:17-27

"Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Markus 10:23

Judul perikop hari ini orang kaya yang sukar masuk sorga.  Adakah yang salah dengan orang kaya?  Ataukah kita harus menjadi miskin dahulu supaya layak masuk sorga?

     Perhatikan kebenaran firman Tuhan ini.  Markus menceritakan, ketika mendengar Yesus sedang lewat dalam rangka tour pelayanan-Nya, segerlah seorang kaya menyongsong Yesus, ia  "...berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya"  (ayat 17).  Dari tindakannya, orang kaya ini menunjukkan kesungguhannya untuk bertemu Yesus dan memiliki kerendahan hati.  Umumnya orang kaya memiliki sifat sombong/tinggi hati, ia pasti tidak akan mau berlari menyambut Tuhan Yesus, apalagi sampai berlutut di bawah kakinya, semata-mata demi menjaga gengsi atau pamornya.

     Mari kita bandingkan dalam Matius 19:16-28 yang menyebutkan bahwa orang kaya itu masih berusia muda.  Bukan hanya itu, ia juga orang yang sangat rohani, terbukti dari ketaatannya melakukan hukum Taurat.  "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"  (Matius 19:20).  Sedangkan di dalam Lukas 18:18-27 dicatat bahwa selain kaya, ia adalah seorang pemimpin rohani atau dengan kata lain orang yang sudah melayani pekerjaan Tuhan.  Perihal melakukan hukum Taurat sudah tidak perlu diragukan lagi.  "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."  (Lukas 18:21).  Orang yang demikian sepertinya sudah jarang ditemukan di zaman sekarang ini.  Itulah sebabnya ia sangat percaya diri bahwa kelak ia pasti masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Mengapa?  Karena orang-orang Yahudi di zaman Tuhan Yesus memiliki alasan kuat yaitu mereka memiliki garis keturunan secara langsung dari bapa leluhurnya, Abraham.  Mereka juga taat melakukan hukum Taurat sebagai tradisi turun-temurun.

     Itulah sebabnya ketika bertemu dengan Tuhan Yesus orang muda ini memanfaatkan momen secara tepat untuk mengajukan pertanyaan kepada-Nya:  "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"  (Markus 10:17;  Matius 19:16;  Lukas 18:18).  Di balik pertanyaan tersebut sesungguhnya orang kaya tersebut hendak mencari konfirmasi bahwa apa yang sudah diperbuatnya itu pasti berkenan kepada Tuhan dan menjaminnya masuk Kerajaan Sorga.  Benarkah demikian?

No comments:

Post a Comment