Monday, April 30, 2012

SALOMO: Hati yang Mulai Berubah!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 April 2012 -

Baca:  1 Raja-Raja 11:1-13

"'Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.' Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta."  1 Raja-Raja 11:2

Dalam Yohanes 10:10 dikatakan,  "Pencuri (Iblis) datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;"  Karena itu berbagai cara dilakukan Iblis untuk menghancurkan kehidupan manusia.  Jika gagal dengan cara yang satu, Iblis akan mencoba cara yang lain.  jika melalui kejadian yang buruk, sakit-penyakit tidak berhasil, Iblis akan mencoba mencari celah yang lain.  Salah satunya adalah melalui kelimpahan atau berkat.  Berapa banyak orang jatuh dalam dosa justru pada saat ia diberkati.  Sementara saat berada dalam penderitaan seseorang dapat begitu dekat dan bergaul karib dengan Tuhan.  Tetapi saat ia berlimpah dengan harta hatinya tidak lagi terpaut kepada Tuhan, karena Alkitab mengatakan: "...di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21).

     Kita bisa belajar dari kisah hidup raja Salomo.  Ia adalah seorang raja yang  "...melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat."  (1 Raja-Raja 10:23);  hikmat, kekayaan, kekuasaan dan popularitas Salomo benar-benar tak tertandingi oleh raja mana pun yang ada di dunia.  Dan sungguh benar bahwa semakin tinggi pohon semakin besar pula angin yang menerpanya.  Semua itu membuat Salomo lupa diri dan kian terlena;  harta, tahta dan wanita secara perlahan telah mengubah arah hidupnya.  Hatinya mulai berubah!  Ia tidak lagi mengindahkan perintah Tuhan.  Nasihat dan pesan dari ayahnya, Daud,  "Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya,..."  (1 Raja-Raja 2:3)  ia lupakan dan mulai berkompromi dengan dosa.

     Mengapa Salomo menjadi seperti itu?  Semua itu berawal ketika ia  "...mencintai banyak perempuan asing.  Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,"  (ayat 1).  Karena perempuan-perempuan asing itulah iman Salomo menjadi goyah dan hatinya menjadi condong kepada ilah-ilah mereka.  Padahal dengan tegas Tuhan sudah melarang Salomo untuk bergaul dengan mereka, karena  "Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."  (1 Korintus 15:33).  Tuhan pun menjadi sangat marah!

Goncangan hebat terjadi di akhir pemerintahan Salomo dan kerajaannya pun koyak.

Sunday, April 29, 2012

MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 April 2012 -

Baca:  Mazmur 63:1-12

"Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu."  Mazmur 63:5

Berapa lama Saudara memiliki waktu untuk bersekutu dengan Tuhan?  Banyak yang menjawab:  tidak pasti, kalau lagi tidak sibuk.  Dalam sehari Tuhan memberi kita waktu selama 24 jam.  Dari 24 jam itu, berapa jam yang kita gunakan untuk mencari hadirat Tuhan atau kita khususkan untuk memuji dan menyembah Dia?

     Daud tidak pernah melewatkan hari tanpa bersekutu dengan Tuhan dan memuji-muji Tuhan, baik itu pagi, siang dan malam.  Tertulis:  "Tuhan, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu." (Mazmur 5:4), juga  "...pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu;" (Mazmur 59:17) dan  "...pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku." (Mazmur 42:9).  Di  segala waktu dan keadaan (suka maupun duka) Daud selalu memuji-muji Tuhan.  Sama seperti yang dilakukan oleh suku Lewi, satu-satunya suku di antara 12 suku di Israel yang memiliki tugas 'istimewa' yaitu dikhususkan  untuk melayani Tuhan, menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan.  Dikatakan:  "...mereka bertugas menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi Tuhan setiap pagi, demikian juga pada waktu petang,"  (1 Tawarikh 23:30).

     Selama masih ada waktu, selama matahari terbit di ufuk timur, selama bintang masih gemerlap di waktu malam, dan selama bumi masih berputar, suku Lewi tak henti-hentinya menaikkan korban syukur dan puji-pujian bagi Tuhan, baik itu pada waktu pagi, petang dan juga pada hari-hari khusus seperti sabat, bulan baru, hari raya dan sebagainya.  Kita pun harus demikian, menyediakan waktu khusus bagi Tuhan.  Jangan hanya saat ibadah di gereja saja!  Kita sendiri harus tahu kapan waktu yang tepat untuk mencari hadirat Tuhan.  Bagi yang bekerja bisa menyediakan waktu pagi hari untuk Tuhan sebelum berangkat beraktivitas.  Para ibu rumah tangga malah lebih fleksibel karena memiliki waktu luang lebih banyak di rumah, bisa pagi, siang atau sore.  Atau mungkin kita hanya bisa pada malam hari setelah semua tugas dan pekerjaan terselesaikan.  Tidak masalah!  Daud berkata,  "Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku."  (Mazmur 34:2)

Jika Daud bisa, mengapa kita tidak?

Saturday, April 28, 2012

MENGUATKAN HATI KEPADA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 April 2012 -

Baca:  Efesus 6:10-20

"Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya."  Efesus 6:10

Gedung-gedung pencakar langit kini makin banyak terdapat di kota-kota besar, tidak hanya di Jakarta, tapi di kota-kota lainnya juga seperti Surabaya atau Bandung.  Pembangunan gedung-gedung tinggi tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat, perlu adanya perencanaan yang matang, karena semakin tinggi bangunan gedung semakin dalam atau semakin kokoh pula pondasi yang harus ditanam.  Jika tidak, gedung itu akan mudah goyah atau runtuh bila ada guncangan atau badai datang.

     Kehidupan kekristenan kita pun juga harus demikian!  Itulah sebabnya firman Tuhan selalu menasihatkan agar kita makin kuat di dalam Tuhan.  Contoh lain adalah pesan Musa kepada Yosua:  "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."  (Ulangan 31:6).  Juga saat bangsa Israel menghadapi bani Amon dan orang Aram, Yoab membangkitkan semangat para tentara Israel yang hendak terjun ke medan perang dengan berkata,  "Kuatkanlah hatimu dan marilah kita menguatkan hati untuk bangsa kita dan untuk kota-kota Allah kita. Tuhan kiranya melakukan yang baik di mata-Nya."  (1 Tawarikh 19:13).  Jangan sampai mereka takut, patah semagat dan menjadi lemah.  Memang jumlah lawan melebihi tentara Israel, tapi tidak ada perkara mustahil bagi orang percaya karena ada Tuhan yang menyertai mereka.  Dan hasilnya, bangsa Israel mengalami kemenangan yang gilang-gemilang.

     Di tengah dunia yang penuh tantangan ini anak-anak Tuhan tidak boleh lemah, sebab kita berada dalam peperangan setiap hari yaitu melawan tipu muslihat Iblis yang berupaya untuk menyerang iman orang percaya.  Di akhir zaman ini banyak orang Kristen yang jatuh oleh karena perangkap Iblis, bahkan tak segan-segan mereka meninggalkan imannya.  Karena iming-iming kekayaan, jabatan dan popularitas mereka rela menjual keselamatannya.  Ada juga karena masalah (sakit-penyakit, krisis keuangan dan sebagainya) mereka tidak tahan, iman menjadi goyah dan akhirnya meninggalkan Kristus.  Apa pun yang terjadi kita harus kuat di dalam Tuhan dan berjuang mempertahankan iman kita di hadapan Kristus sampai Dia datang kali yang kedua.

Jangan sampai gagal di tengah jalan dan akhirnya harus mengalami kebinasaan kekal.

Friday, April 27, 2012

MEMBALAS KASIH DAN KEBAIKAN TUHAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 April 2012 -

Baca:  Mazmur 145:1-21

"Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya."  Mazmur 145:9

Sampai saat ini tidak sedikit orang Kristen yang mengaku dirinya beriman kepada Tuhan masih ingkar dalam tindakan dan perbuatannya.  Ketika ada badai persoalan menerpa, baik itu sakit-penyakit, masalah keluarga, usaha sedang pailit, secara diam-diam mereka masih lari mencari pertolongan kepada ilah lain:  ke orang pintar (dukun), gunung kawi, kuburan dan lainnya.

     Orang yang benar-benar beriman kepada Tuhan pasti tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti ini karena tindakan tersebut adalah kekejian di mata Tuhan.  Yang Tuhan minta adalah iman kita.  Meski pertolongan dan jawaban doa dari Tuhan sepertinya berlambat-lambat, tetapi nantikan Dia.  Kuatkan iman dan jangan goyah, karena  "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,..."  (Pengkotbah 3:11a).  Karena kasih Tuhan itu tak terhingga atas kita, Dia pun menghendaki agar kita mengasihiNya dengan sungguh.  Tuhan Yesus berkata,  "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu."  (Matius 22:37).

     Apa bukti seseorang mengasihi Tuhan?  Jika kita mengasihi Tuhan berarti kita mau hidup taat dan melakukan segala perintahNya seperti tertulis:  "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya."  (Yohanes 15:10).  Tidak hanya itu, orang yang mengasihi Tuhan juga akan rela berkorban bagiNya, baik itu berkorban waktu, tenaga, bahkan juga materi atau uang untuk Tuhan, tanpa hitung-hitungan.  Ada satu contoh dalam Yohanes 12:3:  "Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu."  Tindakan Maria ini menunjukkan betapa ia sangat mengasihi Tuhan sehingga rela memberikan semua harta miliknya yang sangat berharga itu.  Yang Tuhan perhatikan bukan harta miliknya yang sangat berharga itu.  Yang Tuhan perhatikan bukan pada minyak narwastu yang mahal itu, namun Dia melihat hati Maria yang begitu tulus mengasihi Tuhan.

     Adalah anugerah terbesar jika saat ini kita dipercaya Tuhan untuk melayani Dia.  Apa pun bentuk pelayanan kita biarlah kita lakukan itu dengan segenap hati, bukan karena terpaksa, melainkan karena kita mengasihi Dia.

Beri yang terbaik bagi Tuhan, karena kita telah menerima kasih dan kebaikanNya!

Thursday, April 26, 2012

MEMBALAS KASIH DAN KEBAIKAN TUHAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 April 2012 -

Baca:  Mazmur 31:1-25

"Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia!"  Mazmur 31:20

Siapa di antara kita yang meragukan kasih Tuhan?  Jangan sampai detik ini kita masih ragu akan kasih dan kebaikan Tuhan, bolehlah kita ini disebut orang yang tidak tahu berterima kasih seperti sembilan orang kusta yang sudah disembuhkan Tuhan, yang pergi begitu saja setelah disembuhkan Tuhan sehingga Ia bertanya,  "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir?  Di manakah yang sembilan orang itu?"  (Lukas 17:17).

     Begitu pula kita.  Bukankah setiap detik, setiap waktu dan setiap hari kasih dan kebaikan Tuhan itu nyata atas hidup kita?  Tak terbantahkan bahwa Tuhan itu baik dan sangat baik.  Oleh karena itu pemazmur berkata,  "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu!"  (Mazmur 34:9a).  Tuhan telah memberikan segala yang kita perlukan, bahkan nyawaNya sendiri Ia berikan untuk keselamatan kita.  Tuhan rela disalibkan dan mati, itu semua demi menebus dosa-dosa kita.

     Apa yang sudah kita berikan kepada Tuhan untuk membalas kasihNya itu?  Masakan kita hanya mau menerima saja dari Tuhan tanpa melakukan apa-apa untukNya?  Ketika kita dalam masalah berat, Tuhan menolong dan memberikan jalan keluar;  ketika kita menderita sakit, yang secara manusia sudah tidak ada harapan, Tuhan sanggup menyembuhkan;  ketika kita dalam kekurangan, Tuhan memperhatikan dan memberkati kita dengan caraNya yang ajaib.  Maka agar hubungan kita dengan Tuhan semakin karib, kita yang sudah menerima kebaikan dari Tuhan juga harus mau memberikan apa yang Tuhan inginkan untuk kita kerjakan, memberikan apa yang Tuhan perlukan dari hidup kita.  Perhatikan Ibrani 11:6a ini:  "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah."  Jadi untuk berkenan kepada Tuhan kita harus beriman kepadaNya, itulah yang Dia minta dari kita.  Beriman kepada Tuhan berarti percaya penuh kepada Tuhan meskipun yang terlihat tidak sesuai dengan kenyataan;  beriman berarti tidak bimbang dan tidak bercabang hati;  memiliki penyerahan diri secara total kepadaNya dan tidak tergantung pada keadaan;  menjadikan Tuhan sebagai pusat pujian dan penyembahan kita;  menempatkan Tuhan sebagai segala-galanya dalam hidup kita.
(Bersambung)

Wednesday, April 25, 2012

LIDAH KITA, HIDUP KITA!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 April 2012 -

Baca:  Mazmur 39:1-14

"Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku."  Mazmur 39:2

Tuhan sangat sedih bila melihat kehidupan orang Kristen yang tidak bisa menjadi kesaksian bagi orang lain.  Bagaimana kita bisa memenangkan jiwa baru dan membawanya kepada Kristus bila mereka lebih dulu tersandung oleh karena perbuatan-perbuatan orang Kristen sendiri?  Oleh karena itu mari kita koreksi hidup kita terlebih dahulu sebelum melangkah ke luar menjangkau jiwa-jiwa di luar sana.

     Mari kita mulai dari hal-hal sederhana terlebih dahulu yaitu menjaga lidah atau perkataan kita.  Banyak orang Kristen yang meremehkan dan menganggap sepele hal ini sehingga sering kita temukan ada orang Kristen yang masih suka berkata-kata kasar, menggosip, memfitnah, memaki-maki orang lain dan juga mengucapkan perkataan-perkataan yang negatif yang menunjukkan ketakutan, kekuatiran, keragu-raguan, ketidakpercayaan, sakit-penyakit dan sebagainya.  Ayub mengingatkan,  "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku."  (Ayub 3:25).  Ketika  seseorang memperkatakan hal-hal yang negatif ia sedang mengungkapkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya;  ia sedang mendatangkan hal-hal negatif atas dirinya sendiri.  Semakin ia sering menggemakannya, seluruh tubuhnya semakin dicemarkan oleh perkataan-perkataan yang diucapkannya sendiri.  Apakah Tuhan tidak tahu dengan perkataan-perkataan yang kita ucapkan?  Salah besar!  Tuhan sangat memperhatikan setiap kata yang kita ucapkan.  Kita mengetahui hal ini karena Daud berkata,  "...sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan."  (Mazmur 139:4).

     Bagi orang Kristen yang mau terus belajar mendisiplinkan dan menundukkan lidahnya di bawah kendali Roh Kudus, yang akan ia perkatakan adalah perkataan iman, selalu positif, suka memperkatakan firman dan mulutnya penuh dengan puji-pujian bagi Tuhan.  Saat itulah ia sedang mengucapkan kuasa dan kemenangan yang mendatangkan berkat dan hidup atas dirinya sendiri.  Dengan kekuatan kita sendiri tidak akan mampu menjinakkan lidah kita.  Hanya melalui kuasa Roh Kudus kita akan mampu melakukannya!

Cepat atau lambat kita akan menuai berkat-berkat dari Tuhan sebagai dampak dari perkataan yang kita ucapkan!

Tuesday, April 24, 2012

TAK BISA MENGEKANG LIDAH!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 April 2012 -

Baca:  Yakobus 1:19-27 

"Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya."  Yakobus 1:26

Penulis pernah mendapat curhat seorang teman yang bukan seorang percaya (di luar Tuhan) yang bekerja di sebuah perusahaan.  Dia mengungkapkan keluhannya bahwa selama bekerja di situ ia sering menangis dan ingin segera keluar dari pekerjaan karena sudah tidak betah lagi.  Penulis bertanya,  "Mengapa?"  Jawabannya sangat mengangetkan dan sekaligus menyedihkan hati.  Ia tidak tahan dengan omelan dan umpatan dari pimpinannya;  bila ada karyawan yang melakukan kesalahan, si pimpinan itu marah-marah, membentak-bentak, kata-katanya kasar, bahkan 'nama-nama binatang' selalu ia perkatakan, padahal pimpinannya itu seorang Kristen dan terlibat aktif dalam pelayanan di gereja.  Kok bisa ya? Saat berada di gereja atau pelayanan ia bak seorang malaikat atau orang yang suci dan kudus.  Tetapi di luar gereja topeng itu ditanggalkan dan begitu cepatnya berubah.  Karakternya tidak lagi seperti Kristus, tidak bisa menahan lidah atau ucapannya, tidak bisa menjadi berkat, malah menjadi batu sandungan bagi orang lain.

     Ayat nas di atas menyatakan bahwa ibadah kita akan menjadi sia-sia jika kita tidak bisa mengekang lidah atau ucapan kita.  Perkataan-perkataan yang keluar dari mulut kita mengungkapkan sifat yang yang sesungguhnya,  "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati."  (Matius 12:34a).  Kita kembali diingatkan agar berhati-hati menggunakan lidah kita.  Adalah pekerjaan yang tidak mudah mendisiplinkan, mengontrol dan menundukkan satu bagian dari tubuh kita, yang walaupun sangat kecil tapi memiliki pengaruh besar terhadap seluruh keberadaan hidup kita.  Bila kita dapat menundukkan satu bagian dari tubuh kita, yang walaupun sangat kecil tapi memiliki pengaruh besar terhadap seluruh keberadaan hidup kita, yaitu mempunyai kemampuan untuk menentukan seluruh arah hidup kita.  Bila kita dapat menundukkan bagian tubuh kita yang satu ini dan menyerahkannya di bawah kendali Roh kudus, kita akan mampu mendisiplinkan seluruh tubuh kita.

     Lidah atau perkataan yang kita ucapkan menentukan apakah kita akan hidup dalam kemenangan, kekalahan, berkat atau kutuk.  Karena itu kita harus berhati-hati menggunakan lidah kita, karena  "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya."  (Amsal 18:21).

Jangan semborono menggunakan lidah kita karena dampaknya akan kembali ke kita!

Monday, April 23, 2012

JANGAN TIDUR ROHANI!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 April 2012 -

Baca:  1 Tesalonika 5:1-11

"Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar." 1 Tesalonika 5:6

Jika memperhatikan keadaan dunia ini, sungguh saat-saat ini adalah saat di mana kedatangan Tuhan sudah semakin mendekat, sudah di ambang pintu, tinggal diketuk!  Yang menjadi pertanyaan: sudahkah kita siap sedia untuk menyongsong kedatangan Tuhan kali yang kedua ini?  Karena kelesuan, kesuaman dan tertidur secara rohani melanda kehidupan orang percaya.

     Gemerlap dunia ini dengan segala kenikmatannya lebih menyita perhatian dan kian memperdaya banyak orang untuk tidak lagi memikirkan perkara-perkara rohani.  Sebagian besar orang Kristen mulai malas di dalam menjaga hubungan dan komitmennya kepada Tuhan.  Banyak yang melalaikan jam-jam doanya, acuh tak acuh terhadap jiwa-jiwa yang terhilang.  Banyak pula yang puas hanya dengan duduk memenuhi bangku gereja setiap Minggu, mendengar firman dan menerima berkat-berkat dari Tuhan, tapi tidak mempraktekkan apa yang telah mereka dengar dan pelajari.  Bahkan tidak sedikit orang Kristen yang hidupnya 'sama' dengan orang-orang dunia, hanya 'label' Kristen saja yang membedakan, tetapi semua tindakan dan perbuatannya sangat menyedihkan hati Tuhan;  hidup tidak lagi disiplin dan membiarkan hati dan pikirannya dipenuhi oleh berbagai keinginan jahat, ketakutan, kekuatiran, iri, dengki, kebencian, kecemburuan dan sebagainya.  Belum lagi dalam hal perkataan: masih suka bohong, suka melontarkan kata-kata yang tidak sopan, membual, penuh tipu muslihat.

     Orang Kristen mengemban tugas mulia dari Tuhan yaitu untuk menjadi berkat dan juga kesaksian bagi orang lain,  "...bukan untuk melakukan apa yang cemar,"  (1 Tesalonika 4:7).  Oleh sebab itu berhati-hatilah dan segeralah bertobat!  Karena tidak banyak waktu lagi Tuhan segera datang!  Kalau kita tidak segera bertobat mulai dari sekarang, kapan lagi?  "...karena hari-hari ini adalah jahat.  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan."  (Efesus 5:16-17).  Sudah tidak ada waktu lagi untuk tidur!  Tidak ada waktu lagi untuk tetap tinggal dalam comfort zone!  Kita harus bangkit dan segera sadar!  Jangan termakan oleh tipu daya Iblis! 

"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-nya, janganlah keraskan hatimu!"  Ibrani 4:7

Sunday, April 22, 2012

KARIB DENGAN TUHAN: Suatu Proses!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 April 2012 -

Baca:  Mazmur 5:1-13

"Tuhan, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu."  Mazmur 5:4

Di dalam kekariban dengan Tuhan ada pertolongan dan mujizat.  Daniel adalah contoh lain anak muda yang memiliki kekariban dengan Tuhan.  Tertulis:  "Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya."  (Daniel 6:11).

     Tiga kali sehari Daniel sujud menyembah dan memuji Tuhan sehingga jangan heran jika ia menjadi anak muda yang berbeda, yang memiliki excellent spririt.  Ketika Daniel dimasukkan ke dalam gua singa, mujizat Tuhan terjadi:  malaikat-malaikatNya diutus Tuhan untuk mengatupkan mulut singa-singa itu sehingga ia selamat dan tetap hidup.  Masih banyak tokoh-tokoh dalam Alkitab yang karena kekaribannya dengan Tuhan tidak hanya mengalami kebaikan Tuhan, tapi juga dipakai Tuhan secara luar biasa sebagai alatNya.

     Bagaimana dengan kita?  Adakah kita rindu untuk membangun kekariban dengan Tuhan?  Jika kita ingin menikmati berkat-berkat Tuhan dan mengalami kebaikanNya jangan tunda-tunda waktu lagi, mulai sekarang bangunlah kekariban dengan Tuhan, bukan hanya saat kita beribadah di gereja, tapi juga secara pribadi melalui saat teduh kita setiap hari.  Saat ini banyak orang Kristen yang sudah kehilangan kekaribannya dengan Tuhan.  Kita sulit sekali menyediakan waktu untuk bersujud, memuji, menyembah, mengucap syukur dan merenungkan firmanNya secara pribadi.  Berdoa hanya seperlunya saja dan saat butuh.  Bagaimana kita akan mengalami penggenapan janji-janji Tuhan dalam hidup ini jika kita tidak karib dengan Tuhan?

     Membangun kekariban dengan Tuhan adalah sebuah proses.  Jadi tidak ada yang instan, tapi perlu latihan dari hari ke sehari.  Jangan malas dan teruslah berlatih!  Kita harus memaksa tubuh kita untuk berdoa dan melawan rasa kantuk yang menyerang.  Firman Tuhan menasihatkan,  "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:  roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:41).

Jika pada awalnya kita gagal, coba lagi sampai hal itu menjadi sebuah kebiasaan.

Saturday, April 21, 2012

KARIB DENGAN TUHAN: Ada Banyak Berkat!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 April 2012 -

Baca:  Mazmur 27:1-14

"Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya."  Mazmur 27:4

Kitab Mazmur adalah kitab yang ditulis oleh Daud;  ratusan pasal yang terdapat di dalam kitab ini merupakan curahan hati dan pengalamannya sendiri saat ia karib dengan Tuhan: mulai dari muda hingga ia menjadi raja atas Israel.

     Masa muda Daud banyak dihabiskan di padang karena ia adalah penggembala domba.  Dan pada waktu itulah Daud, yang kesukaannya bermain kecapi, mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan dan memuji-muji Tuhan setiap waktu.  Kekaribannya dengan Tuhan menjadikan Daud makin percaya kepadaNya.  Itulah sebabnya Daud begitu antusias terhadap Tuhan;  kerinduannya begitu besar untuk selalu berada di dalam hadirat Tuhan.  Daud berkata,  "Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik." (Mazmur 84:11).  Perhatikan!  Ada banyak berkat jika kita semakin karib dengan Tuhan.  Di dalam kekariban dengan Tuhan tidak ada ketakutan karena Dia sendiri berjanji,  "...Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yesaya 41:10).  Karena karib dengan Tuhan, Daud tidak lagi takut terhadap apa pun.  Ketika harus berhadapan dengan raksasa Filistin (Goliat) ia tidak takut, bahkan mampu mengalahkannya karena ia yakin bahwa Tuhan menyertainya.

     Di dalam kekariban dengan Tuhan ada perlindungan yang aman.  Kita melihat bahwa dunia saat ini penuh dengan gejolak.  Adalah manusiawi sekali jika banyak orang menjadi kuatir dan cemas.  Tidak hanya di luar negeri, tapi di negeri kita pun banyak sekali goncangan-goncangan.  Kerusuhan antarwarga, bencana alam (gunung meletus, banjir, jembatan runtuh), kecelakaan lalu-lintas terjadi di mana-mana.  Tapi bagi orang benar yang hidupnya karib dengan Tuhan tidak perlu kuatir, karena  "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.  Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;  sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya."  (Mazmur 46:2-4).
(Bersambung)

Friday, April 20, 2012

DALAM TUHAN ADA SUKACITA SEJATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 April 2012 -

Baca:  Mazmur 16:1-11

"Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa."  Mazmur 16:11

Momen apa yang paling membuat Saudara merasakan sukacita?  Ada berbagai alasan seseorang mengalami sukacita dalam hidupnya:  seseorang bersukacita saat ia mendapatkan lotere;  ketika merayakan valentine's day dengan teman-teman;  saat berada di kursi pelaminan dengan orang yang dicintainya;  ketika memiliki uang banyak;  ketika lulus ujian atau diwisuda sebagai sarjana;  ketika dianugerahi anak;  ketika bertemu dengan kawan lama dan sebagainya.  Seseorang yang menderita sakit akan bersukacita ketika dokter menyatakan bahwa ia sudah sembuh dan boleh pulang dari rumah sakit;  seorang atlet mengalami sukacita yang luar biasa ketika ia mampu merebut medali emas dalam suatu kejuaraan;  seorang petani bersukacita tatkala musim panen yang ditunggu-tunggu itu tiba, sehingga rasa-rasanya semua kerja keras yang selama ini ia lakukan, baik itu membajak, mengairi dan merawat tanaman telah terbayar sudah.  Begitu pula seorang karyawan akan bersukacita ketika tiba waktu menerima gaji atau mendapat promosi jabatan dari pimpinan.

     Namun, berapa lama sukacita itu akan bertahan?  Sukacita yang ditawarkan oleh dunia ini sifatnya hanya sementara, tidak akan bertahan lama.  Lalu, di manakah kita menemukan sukacita yang sejati dan berlimpah-limpah itu?  Sukacita yang melimpah dan yang tak lekang oleh waktu hanya akan kita temukan di dalam Tuhan Yesus.  Sukacita yang dari Tuhan tidak bergantung pada situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita karena sukacita itu berasal dari dalam, yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

     Jadi, kita mendapatkan sukacita yang berlimpah oleh karena ada Roh Kudus di dalam diri kita.  Itulah sebabnya Rasul Paulus menasihati,  "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!  Sekali lagi kukatakan:  Bersukacitalah!"  (Filipi 4:4).  Mungkin kita berkata,  "Teorinya gampang.  Prakteknya?  Bagaimana bisa bersukacita jika kita sedang dalam masalah, sakit, punya banyak utang, toko sepi, perusahaan lagi bangkrut dan sebagainya?"  Rasul Paulus menulis surat himbauan kepada jemaat di Filipi ini bukan saat ia sedang bersenang-senang karena menerima berkat dari Tuhan, tapi justru saat ia berada di dalam penjara alias dalam penderitaan dan kesesakan.

"Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!"  (Nehemia 8:11b).

Thursday, April 19, 2012

MENINGGALKAN KASIH MULA-MULA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 April 2012 -

Baca:  1 Korintus 13:13

"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih."  1 Korintus 13:13

Apa itu kasih mula-mula?  Kasih yang mula-mula adalah kasih yang membawa kita kepada satu hati yang berkobar-kobar seperti semula ketika kita percaya kepada Kristus;  hati yang begitu semangat untuk bersaksi, untuk memberitakan Injil; hati yang penuh cinta kepada Tuhan dan sesama; hati yang tulus iklhas tanpa pamrih untuk Tuhan.

     Mengapa kasih yang mula-mula ini penting?  Kasih mula-mula ini sangatlah penting, karena hal ini merupakan dasar dari hubungan kita dengan Tuhan.  Kita tahu bahwa kota Efesus adalah kota yang besar dan sangat terkenal pada waktu itu, yang tentunya orang-orang di Efesus punya pilihan untuk hidup dalam duniawi.  Tetapi ternyata jemaat Efesus adalah jemaat yang luar biasa karena mereka tetap setia dalam melayani dan hidup bagi Tuhan; mereka masih mengutamakan perkara-perkara rohani sekali pun banyak sekali tantangan dan cobaan.  Secara fisik mereka tetap melakukan pelayanan untuk Tuhan, tetapi pelayanan mereka tidak lagi digerakkan dan dibakar oleh kasih mereka kepada Kristus.  Mereka terjerumus ke pekerjaan atau pelayanan rutinitas belaka.  Hal inilah yang seringkali tidak kita sadari.  Tanpa kasih yang menyala-nyala bagi Kristus, pekerjaan dan pelayanan yang kita lakukan tidak ada artinya.  Tanpa kasih, semua tidak ada faedahnya bagi Tuhan.  Karena itu kita harus ingat saat pertama kita percaya kepada Tuhan:  saat kita bertobat dan berkomitmen untuk mengikuti Tuhan dan melayani Dia dengan segenap hati dan jiwa.  Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa seseorang telah meninggalkan kasih mula-mulanya kepada Tuhan:  1. Tuhan tidak lagi menjadi prioritas utama dalam hidup kita.  Mungkin kita masih aktif melayani Tuhan, tapi pelayanan itu tidak lagi timbul dari hati yang haus dan lapar akan Dia, melainkan hanya karena tugas dan rutinitas semata.  2. Timbul rasa malas untuk bersekutu dengan Tuhan secara pribadi.  Waktu untuk berdoa, menyembah Tuhan dan merenungkan firmanNya berkurang.  3. Kita lebih disibukkan dengan urusan-urusan pribadi: keluarga, pekerjaan, hobi dan sebagainya.  Oleh karena itu Tuhan mengingatkan,  "...ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh!  Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan."  (Wahyu 2:5a, b).

Mari kita berkomitmen lagi untuk mengasihi Tuhan, lebih dari segalanya.

Wednesday, April 18, 2012

MENINGGALKAN KASIH MULA-MULA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 April 2012 -

Baca:  Wahyu 2:1-7

"Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."  Wahyu 2:4

Apakah saat ini kita sedang bangga dengan kerohanian kita?  Kita sudah melayani Tuhan dan terlibat aktif di gereja lokal yang terkenal?  Melalui renungan ini kita diingatkan untuk tidak terlalu membanggakan diri karena yang berhak menilai 'kualitas' pekerjaan kita bukanlah manusia, melainkan Tuhan.  Secara kasat mata mungkin kita melihat dan menilai bahwa gereja kita adalah gereja yang aktif dengan jemaat yang 'dewasa' rohani pula.  Hal ini bisa terlihat dari jadwal pelayanan yang tak pernah kosong, mulai hari Minggu hingga Sabtu, gereja penuh dengan kegiatan:  kebaktian umum, ibadah kelompok (sel), ibadah pria-wanita, ibadah doa puasa, ibadah pemuda dan sebagainya yang selalu dipenuhi dengan jiwa-jiwa.

     Keadaan ini tak jauh beda dengan jemaat di Efesus.  Kepada jemaat di Efesus Tuhan berkata,  "Aku tahu segala pekerjaanmu:  baik jerih payahmu maupun ketekunanmu."  (Wahyu 2:2a).  Jika kita perhatikan, jemaat di Efesus adalah jemaat yang dewasa rohaninya karena mereka setia, tekun, mampu membedakan guru-guru palsu (ayat 2), bahkan dikatakan:  "...engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku;  dan engkau tidak mengenal lelah." (ayat 3).  Bukankah ini sudah cukup membuktikan bahwa jemaat Efesus setia dalam melayani dan hidup bagi Tuhan?  Kurang apa lagi?  Secara manusia, kekristenan mereka pasti dikenan Tuhan.  Tetapi mengapa Tuhan masih mencela mreka?  Mata Tuhan sanggup melihat jauh melampaui pikiran dan juga penampilan luar kita karena  "...tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia,..."  (Ibrani 4:13).

     Jadi, Tuhan tahu keberadaan setiap jemaat dan individu yang ada di dalam gereja secara mendalam.  Saat ini mungkin yang menjadi fokus kita adalah hal-hal yang tampak dari luar:  jemaat yang banyak, organisasi gereja yang solid, aktivitas rohani (pelayanan yang padat), pula gedung gereja yang tampak megah dan besar dan sebagainya.  Tetapi ada hal penting yang malah terabaikan, dan itulah yang sedang Tuhan ungkap terhadaap jemaat di Efesus ini.  Ternyata banyak dari kita telah meninggalkan kasih mula-mula (ayat nas).  Kita telah menggantikan kasih kita kepada Tuhan dengan pekerjaan atau aktivitas rohani yang ada.  (Bersambung)

Tuesday, April 17, 2012

BERTOBAT DULU BARU MELAYANI TUHAN! (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 April 2012 -

Baca:  2 Timotius 4:1-8

"Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!"  2 Timotius 4:5

Hidup dalam pertobatan sejati adalah awal bagi setiap orang percaya untuk bisa melangkah ke luar sebagi pemberita Injil atau terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan.  Banyak orang mengira bahwa perbuatan dosa dapat diselesaikan dengan kita berbuat baik, sehingga berbagai cara kita tempuh untuk menutupi dosa-dosa yang kita perbuat.  Salah satunya adalah dengan kedok melalui kegiatan-kegiatan keagamaan atau istilah rohaninya adalah pelayanan.  Ingat! Tuhan tidak dapat kita manipulasi.  Tuhan mengetahui in detail apa yang ada di pikiran dan motivasi kita,  "...sebab Tuhan menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9a).  Pergi ke gereja setiap minggu bahkan setiap hari dan melakukan berbagai macam kegiatan pelayanan menjadi suatu hal yang sia-sia dan tidak berarti di hadapan Tuhan, jika tidak ada pertobatan dalam diri kita.  Kita bisa saja mengelabui orang lain dengan tampilan luar yang wah, dengan dasi yang licin dan sebagainya, tapi tidak di hadapan Tuhan!

     Perhatikan!  "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"  (Matius 7:22-23).  Yang Tuhan kehendaki adalah kita menjadi pelaku firman dan hidup dalam ketaatan.  Seharusnya semua kegiatan pelayanan yang kita lakukan menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan, bukan hanya aktivitas rutin saja.  Kekristenan sejati adalah hidup yang mau taat kepada Tuhan.  Kalau dulu sebelum bertobat kita selalu hidup dalam dosa dan melawan kebenaran, sekarang setelah bertobat kita harus mempunyai tekat untuk hidup taat dan menjadi semakin serupa dengan Kristus.

     Inilah pernyataan Paulus,  "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia."  (Kisah 5:29).  Ketaatan dan kerelaan hati untuk melayani Tuhan adalah buah dari pertobatan seseorang.  Jadi sebelum kita benar-benar hidup dalam pertobatan sejati jangan main-main dengan pelayanan.

Sebagai pemberita Injil, hidup kita harus benar di hadapan Tuhan dan juga manusia!

Monday, April 16, 2012

BERTOBAT DULU BARU MELAYANI TUHAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 April 2012 -

Baca:  Markus 6:6b-13

"Lalu pergilah mereka (murid-murid Yesus) memberitakan bahwa orang harus bertobat,"  Markus 6:12

Menjadi saksi Kristus adalah tugas setiap orang Kristen.  "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."  (Matius 28:19-20a).  Namun sebelum kita pergi ke luar memberitakan Injil dan menjadi saksi Kristus, kita secara pribadi harus mengalami pertobatan sejati terlebih dahulu.  Kalau kita sendiri masih hidup dalam dosa, mengenakan 'manusia lama' dan tidak mengalami pertobatan secara pribadi, kita pasti tidak akan memiliki kuasa untuk mengajak orang lain percaya kepada Kristus.  Justru kita akan menjadi batu sandungan bagi orang lain dan mempermalukan nama Tuhan di hadapan mereka.  Jangan sampai hal ini terjadi!  Kita pasti akan gagal.  Oleh sebab itu sebelum kita pergi melayani orang lain dan memberitakan Injil, dosa-dosa kita harus dibereskan terlebih dahulu di hadapan Tuhan.  Kita harus benar-benar bertobat!

     Kata 'bertobat' dalam Perjanjian Baru disebut dengan 'Metanoia' yang berarti perubahan pikiran disertai dengan penyesalan dan perubahan perilaku.  Seseorang yang sungguh-sungguh bertobat pasti mengalami perubahan dalam hidupnya, tahu dan sadar akan dosa-dosa yang diperbuatnya, mengalami kesedihan dan penyesalan terhadap dosanya di hadapan Tuhan.  Tidak ada dosa yang ditutup-tutupi lagi!  Mari kita belajar seperti Daud yang berani berkata,  "Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: 'Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,' dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku." (Mazmur 32:5).  Inilah bukti orang yang mau benar-benar bertobat!  Alkitab mencatat,  "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."  (1 Yohanes 1:9).

     Jadi, seseorang dikatakan mengalami pertobatan sejati apabila ia sadar akan segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya, lalu mau kembali kepada Tuhan.

Dengan demikian, tidak lagi menjadi 'senjata makan tuan', tetapi kita akan memiliki keberanian untuk pergi memberitakan Injil dan menjadi saksi Kristus, karena Roh Kudus yang akan menuntun, membimbing dan memampukan kita untuk menjangkau jiwa-jiwa!

Sunday, April 15, 2012

ISHAK: Ketaatan Seorang Anak Perjanjian!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 April 2012 -

Baca:  Kejadian 22:1-19

"Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran..."  Kejadian 22:2

Tuhan berjanji kepada Abraham,  "'Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.'  Maka firmanNya kepadanya:  'Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.'"  (Kejadian 15:5).  Ternyata Tuhan baru menggenapi janji tersebut 25 tahun kemudian saat Ishak lahir.  Suatu penantian yang panjang!

     Tidak mudah bagi seseorang meneguhkan hati untuk menantikan janji Tuhan seperti Abraham ini.  Ketika berdoa selama seminggu, dua minggu, sebulan atau setahun, dan belum beroleh jawaban, biasanya seseorang akan mudah kecewa, mengeluh dan bersungut-sungut kepada Tuhan.  Pemazmur menasihati,  "Nantikanlah Tuhan!  Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!  Ya, nantikanlah Tuhan!"  (Mazmur 27:14), karena  "...semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu;"  (Mazmur 25:3a).  Yang harus kita pahami, cara Tuhan bekerja seringkali di luar bahkan melampaui pikiran kita.  Pastinya, pertolongan Tuhan selalu datang tepat pada waktunya dan caraNya selalu ajaib!  Seringkali jawaban Tuhan datang pada detik-detik terakhir ketika kita hampir menyerah dan kuatir.  Akibat ketidaksabaran ini banyak dari kita yang akhirnya mem-by pass rencana Tuhan.

     Ishak adalah anak perjanjian yang dinanti-nantikan selama 25 tahun.  Darinyalah akan lahir bangsa yang besar dan diberkati;  ia lahir di masa tua Abraham, maka wajarlah jika Ishak menjadi 'harta berharga' bagi orang tuanya.  Namun Tuhan meminta agar Ishak dipersembahkan sebagai korban.  Tidak bisa dibayangkan betapa berat pergumulan Abraham!  Terlebih lagi ketika Ishak bertanya tentang korban bakaran itu,  "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" (Kejadian 22:7).  Meski dalam hatinya penuh tanya, Ishak tetap taat melakukan perintah bapanya.  Ketika menuju ke gunung Moria, Ishak rela diminta membawa sendiri kayu untuk korban bakaran itu di pundaknya, dan tanpa melakukan perlawanan ia rela diikat dan diletakkan di atas mezbah sebagai korban.  Dan di detik-detik terakhir, Tuhan membawa Abraham melihat ada seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut.

Ternyata Ishak tidak perlu dikorbankan karena domba telah disediakan Tuhan untuk dipersembahkan sebagai korban menggantikan posisi Ishak!

Saturday, April 14, 2012

RASUL PAULUS: Kekristenan yang Berkualitas!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 April 2012 -

Baca:  Roma 1:8-15

"Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma."  Roma 1:15

Sebagai orang Kristen kita memiliki tanggung jawab yang tidak mudah, karena sebagai pengikut Kristus hidup kita juga harus mencerminkan Kristus dan meneladaniNya.  Jika tidak, kita belum layak disebut sebagai orang Kristen yang sejati, karena semua tindakan dan perbuatan kita haruslah sesuai dengan firman Tuhan.  Inilah yang dikehendaki Tuhan,  "supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,"  (Filipi 2:15).

     Hidup tiada beraib, tiada bernoda, tiada bercela dan bercahaya di tengah-tengah dunia adalah kualitas hidup orang Kristen yang sesungguhnya.  Seringkali orang salah dalam mengukur kualitas hidup seseorang.  Orang dunia menilai bahwa seseorang dikatakan berkualitas apabila ia berpendidikan tinggi, mempunyai karir yang menanjak, berpengalaman banyak, memiliki kekayaan yang melimpah dan sebagainya.  Tapi itu berbeda dengan ukuran yang dipakai Tuhan!  "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;  manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati."  (1 Samuel 16:7b).

     Kehidupan rohani yang berkualitas inilah yang juga diteladankan rasul Paulus bagi orang percaya:  saat berada di penjara sekali pun Paulus tetap bisa mengucap syukur kepada Tuhan (ayat 8).  Meski mengalami tindasan, aniaya, penderitaan dan ujian dia tidak pernah mengeluh atau bersungut-sungut.  Hal ini menunjukkan bahwa motivasi Paulus dalam melayani Tuhan benar-benar tulus dan murni demi kemuliaan nama Tuhan (ayat 9).  Apa kuncinya sehingga Paulus bisa seperti itu?  Berdoa! (ayat 10).  Tanpa doa, Paulus tidak akan mampu setegar itu;  Tanpa doa, pelayanan Paulus tidak akan berdampak.  Doa harus menjadi nafas hidup orang percaya!  Karena itu ia selalu menasihatkan:  "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus."  (Efesus 6:18b).  Sudah seharusnya setiap kita, bukan hanya pelayan Tuhan, meneladani hidup Paulus ini.  Jangan sampai kita melayani Tuhan tapi dengan motivasi tidak benar.

Selalu bersyukur, tulus melayani Tuhan dan tekun dalam doa adalah kunci untuk menjadi orang Kristen yang berkualitas!

Friday, April 13, 2012

MEMUJI TUHAN: Kunci Menang dari Masalah!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 April 2012 -

Baca:  Mazmur 34:1-23

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku."  Mazmur 34:2

Beberapa waktu yang lalu televisi dan surat kabar dipenuhi dengan berita tentang kecelakaan maut yang menggemparkan di Jakarta, di mana seorang pengendara mobil menabrak 12 orang sekaligus dan 9 dari mereka meninggal.  Usut punya usut si pengemudi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan ternyata ia masih berada di bawah pengaruh obat-obatan terlarang (narkoba).  Ya... narkoba kini begitu merajalela, ada di mana-mana dan begitu mudahnya didapat.  Bukan hanya anak muda yang menjadi pemakai, namun orang kantoran, artis, bahkan ada juga ibu-ibu rumah tangga serta pilot juga mengkonsumsinya!

     Mengapa mereka memakai narkoba?  Ada yang bilang:  lagi stress, supaya bisa melupakan masalah, supaya happy atau sekedar ikut-ikutan.  Untuk bisa terbebas dari masalah, kekuatiran, kecemasan, kepanikan dan stres, narkoba bukan jalan keluarnya.  Jangan terpedaya oleh tipu muslihat Iblis!  Kunci utama untuk lepas dari itu semua adalah kita harus semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.  Daud, ketika berada dalam permasalahan yang berat, justru mengangkat puji-pujian bagi Tuhan.  Tertulis:  "Tetapi aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepada-Mu;"  (Mazmur 71:4), karena ia tahu bahwa  "Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."  (Mazmur 34:19).  Biasanya jika seseorang mengalami stress karena tertimpa kesukaran atau terkurung masalah-masalah serius ia cenderung untuk mengeluh, mengasihani diri sendiri dan marah kepada Tuhan.  Jangankan memuji-muji Tuhan, untuk tersenyum saja bibir terasa kaku.  Mengapa kita harus menyalahkan Tuhan?  Bukankah kebanyakan masalah yang terjadi itu akibat dari kesalahan kita?  Mungkin kebanyakan kita telah memberi celah kepada Iblis untuk menyerang pikiran kita dengan hal-hal negatif, sehingga terjadilah yang dikatakan Ayub:  "...yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku."  (Ayub 3:25).

     Tuhan akan membebaskan kita dari semua permasalahan jika kita mau belajar memuji dan bersyukur padaNya dalam segala waktu (baik atau buruk).


Semakin banyak kita memuji Tuhan semakin besar juga kemenangan menjadi bagian kita!

Thursday, April 12, 2012

MENINGGALKAN KASIH MASIH MULA-MULA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 April 2012 -

Baca:  1 Korintus 13:13

"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih."  1 Korintus 13:13

Apa itu kasih mula-mula?  Kasih yang mula-mula adalah kasih yang membawa kita kepada satu hati yang berkobar-kobar seperti semula ketika kita percaya kepada Kristus;  hati yang begitu semangat untuk bersaksi, untuk memberitakan Injil; hati yang penuh cinta kepada Tuhan dan sesama; hati yang tulus iklhas tanpa pamrih untuk Tuhan.

     Mengapa kasih yang mula-mula ini penting?  Kasih mula-mula ini sangatlah penting, karena hal ini merupakan dasar dari hubungan kita dengan Tuhan.  Kita tahu bahwa kota Efesus adalah kota yang besar dan sangat terkenal pada waktu itu, yang tentunya orang-orang di Efesus punya pilihan untuk hidup dalam duniawi.  Tetapi ternyata jemaat Efesus adalah jemaat yang luar biasa karena mereka tetap setia dalam melayani dan hidup bagi Tuhan; mereka masih mengutamakan perkara-perkara rohani sekali pun banyak sekali tantangan dan cobaan.  Secara fisik mereka tetap melakukan pelayanan untuk Tuhan, tetapi pelayanan mereka tidak lagi digerakkan dan dibakar oleh kasih mereka kepada Kristus.  Mereka terjerumus ke pekerjaan atau pelayanan rutinitas belaka.  Hal inilah yang seringkali tidak kita sadari.  Tanpa kasih yang menyala-nyala bagi Kristus, pekerjaan dan pelayanan yang kita lakukan tidak ada artinya.  Tanpa kasih, semua tidak ada faedahnya bagi Tuhan.  Karena itu kita harus ingat saat pertama kita percaya kepada Tuhan:  saat kita bertobat dan berkomitmen untuk mengikuti Tuhan dan melayani Dia dengan segenap hati dan jiwa.  Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa seseorang telah meninggalkan kasih mula-mulanya kepada Tuhan:  1. Tuhan tidak lagi menjadi prioritas utama dalam hidup kita.  Mungkin kita masih aktif melayani Tuhan, tapi pelayanan itu tidak lagi timbul dari hati yang haus dan lapar akan Dia, melainkan hanya karena tugas dan rutinitas semata.  2. Timbul rasa malas untuk bersekutu dengan Tuhan secara pribadi.  Waktu untuk berdoa, menyembah Tuhan dan merenungkan firmanNya berkurang.  3. Kita lebih disibukkan dengan urusan-urusan pribadi: keluarga, pekerjaan, hobi dan sebagainya.  Oleh karena itu Tuhan mengingatkan,  "...ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh!  Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan."  (Wahyu 2:5a, b).

Mari kita berkomitmen lagi untuk mengasihi Tuhan, lebih dari segalanya.

PENUH PERGUMULAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 April 2012 -

Baca:  Mazmur 56:1-14

"Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang-orang menginjak-injak aku, sepanjang hari orang memerangi dan mengimpit aku!"  Mazmur 56:2

Perjalanan hidup manusia selama berada di muka bumi ini tak luput dari pergumulan.  Entah itu pergumulan tentang pekerjaan, keluarga, keuangan, sakit penyakit dan sebagainya.  Saat berada dalam pergumulan yang berat itu tak jarang kita merasa tertekan, kecewa, frustasi sehingga ada yang nekat mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

     Hal ini juga dialami oleh Daud, hidupnya penuh dengan pergumulan.  Banyak seteru yang menginginkan kematiannya.  Hidupnya menjadi tidak tenang, di antaranya karena Saul terus mengejarnya dan hendak membunuhnya.  Tak jarang pula Daud mengalami ketakutan yang begitu hebat seperti saat ia berada di Gat, sampai-sampai ia berlaku seperti orang yang sakit ingatan dan berbuat pura-pura gila.  Tapi dalam ketakutannya yang luar biasa itu Daud selalu bersandar kepada Tuhan sebab ia percaya bahwa Tuhan sajalah yang dapat membela perkaranya.  Daud berkata,  "Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"  (Mazmur 56:4-5).  Daud percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dan membiarkan umatNya yang berada dalam pergumulan hebat, yang terus berseru-seru kepadaNya.  Daud berkata,  "Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu"  (Mazmur 56:9).

     Saat ini mungkin kita mengalami seperti yang dialami oleh Daud:  kita terhimpit, tertekan oleh permasalahan yang berat atau bahkan juga dimusuhi sekalipun kita tak bersalah.  Tak ada jalan lain selain kita mengadu kepada Tuhan.  Datanglah kepada Tuhan dan jangan lari kepada manusia, biarlah Tuhan sendiri yang menjadi Pembela kita karena  "...hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."  (Mazmur 51:19b).  Berhentilah untuk bersungut-sungut atau mengomel, tapi bawalah persoalan itu dalam doa kepada Tuhan.  Teguhkan hati dan tetaplah tenang, karena  "...dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu."  (Yesaya 30:15).  Air mata pergumulan kita kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia.  Tuhan mengerti kepedihan hati kita dan mengerti kesengsaraan kita.

Seberat apa pun pergumulan kita, Tuhan sanggup menolong dan memberi jalan keluar!

Wednesday, April 11, 2012

MENANTIKAN TUHAN: Beroleh Kekuatan Baru!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 April 2012 -

Baca: Mazmur 130:1-8

"Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya."  Mazmur 130:5

Ada harga yang harus kita bayar ketika kita menantikan sesuatu dari Tuhan.  Menantikan sesuatu dari Tuhan juga membutuhkan kesabaran dan ketekunan.  Banyak orang Kristen yang menyerah di tengah jalan ketika yang dinantikan itu tidak kunjung tiba, dan karena ketidaksabarannya itu akhirnya mereka juga tidak memperoleh apa-apa.

     Pengiringan kita kepada Tuhan tidak terlepas dari masalah dan pergumulan yang datang silih berganti dalam kehidupan ini.  Tiada hari tanpa pergumulan bagi orang percaya!  Tapi kita harus yakin bahwa  "...Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."  (1 Korintus 10:13b).  Satu hal yang harus kita lakukan dalam pergumulan yang kita hadapi adalah tetap sabar dan tekun untuk menantikan jawaban dari Tuhan.  "Nantikanlah Tuhan!  Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!,  Ya, nantikanlah Tuhan!"  (Mazmur 27:14).

     Kesabaran dan ketekunan dalam menanti-nantikan Tuhan pasti akan membuahkan hasil dan mendatangkan berkat yang luar biasa.  Dalam Yesaya 40:31 tertulis:  "...orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."  Ayat ini menyatakan bahwa setiap orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru.  Pergumulan berat yang kita alami seringkali membuat kita lemah, baik secara roh maupun tubuh.  Tapi, kekuatan yang baru akan diberikan Tuhan ketika kita senantiasa menanti-nantikan Dia.  Adapun kekuatan yang Tuhan berikan itu tak terbatas dan tak terjangkau oleh pikiran kita, sebab  "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,"  (Efesus 3:20).  Secara manusia kita tidak kuat, tapi saat kita memandang Tuhan dan berserah penuh kepadaNya, kekuatan itu akan muncul dan membuat kita tetap bersemangat dan tetap tekun menantikan Dia.

Penantian akan Tuhan menghasilkan kekuatan bagi kita dalam menghadapi segala permasalahan yang ada!

Tuesday, April 10, 2012

TIDAK MENGASIHI DUNIA: Tidak Berkompromi Dengan Dosa!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 April 2012 -

Baca:  1 Yohanes 2:7-17

"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu."  1 Yohanes 2:15

Keberadaan hidup orang percaya di tengah dunia adalah untuk menjadi berkat atau kesaksian bagi dunia.  Karena itu kita dituntut memiliki kehidupan yang 'berbeda' dari orang-orang dunia.  Tertulis:  "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."  (Roma 12:2).  Jika hidup kita tidak jauh berbeda dari orang dunia berarti kita telah gagal menjadi orang Kristen.  Bahkan Yakobus dengan keras menyatakan:  "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  (Yakobus 4:4).  Jika seseorang mengasihi dunia ini bisa dipastikan bahwa dia tidak mengasihi Tuhan dengan sepenuhnya, karena ia lebih mengutamakan perkara-perkara duniawi dan mengabaikan perkara-perkara rohani.

     Keduaniawian merupakan suatu roh yaitu suatu atmosfer, suatu pengaruh yang menembus seluruh kehidupan manusia.  Sehubungan dengan ayat nas di atas, tidak berarti bahwa di dalam masyarakat kita harus berlaku seperti 'orang suci', hidup menyendiri dan tidak lagi bersosialisasi.  Tetapi yang dimaksud di sini adalah tidak boleh hidup menurut cara hidup dunia ini yang cenderung berkompromi dengan dosa dan hidup dalam kedagingan.  Dewasa ini banyak orang Kristen yang 'bergandengan tangan' dengan dunia ini sehingga sulit dibedakan manakah orang Kristen dan mana yang 'orang dunia'.  Hal ini janganlah sampai terjadi!  Terlebih-lebih menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang sudah di ambang pintu, kita harus berjuang untuk hidup benar dan tidak bercacat-cela.  Kita harus tegas terhadap dosa!

     Firman Tuhan berkata,  "...hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging."  (Galatia 5:16), dan  "...barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."  (Galatia 6:8).

Bukti kalau kita tidak mengasihi dunia adalah tidak berkompromi dengan dosa, sebaliknya hidup menurut pimpinan Roh Tuhan!

Monday, April 9, 2012

KESETIAAN DAN PERLINDUNGAN TUHAN ITU SEMPURNA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 April 2012 -

Baca:  Mazmur 121:1-8

"Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu."  Mazmur 121:5

Tak seorang pun anak Tuhan yang tidak pernah mengecap kebaikan dan pertolongannya, bukan?  Tuhan itu setia dan tidak pernah ingkar janji.  Pemazmur berkata,  "Tuhan setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya."  (Mazmur 145:13b).  Dan kepada jemaat di Tesalonika, rasul Paulus juga menegaskan bahwa  "...Tuhan adalah setia.  Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat."  (2 Tesalonika 3:3).

     Sudah berapa kali kita diluputkan Tuhan dari hal-hal jahat?  Sungguh tak terhitung banyaknya.  Itulah kesetiaan Tuhan!  Bagaimana dengan kesetiaan manusia?  Kesetiaan manusia itu rapuh dan ada batasnya.  Dikatakan rapuh, sebab kesetiaan manusia mudah berubah, sangat bergantung pada situasi dan kondisi yang ada.  Apabila situasi dan kondisi sangat menguntungkan bagi dirinya, mereka akan setia.  Sebaliknya ketika kondisi tidak menguntungan, kesetiaan itu akan sirna sama sekali sampai-sampai dikatakan,  "...orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang setia dari antara anak-anak manusia."  (Mazmur 12:2).

     Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena memiliki Tuhan yang setia.  Kesetiaan Tuhan itu juga mencakup pemeliharaan terhadap ancaman dari segala sesuatu yang jahat, baik itu kuasa jahat yang berasal dari Iblis atau kejahatan yang dilakukan oleh manusia.  Sebenernya kejahatan yang dilakukan manusia itu juga bersumber dari roh Iblis.  Namun Alkitab menegaskan,  "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?"  (Roma 8:31b).  Kita sering mendengar kesaksian dari hamba-hamba Tuhan yang mengalami tantangna atau perbuatan jahat yang ditujukan terhadap hidupnya.  ketika memberitakan injil ke daerah pedalaman mereka diserang oleh kuasa-kuasa jahat yang berusaha untuk membunuhnya, baik itu dengan ilmu-ilmu gaib atau sihir, mantera-mantera atau pun racun untuk membunuh mereka.  Tetapi tangan Tuhan menopang dan melindungi para hamba Tuhan itu terhadap yang jahat, sehingga kuasa maut tak mampu membunuhnya.  Ketika orang-orang jahat itu tak mampu membunuh para hamba Tuhan, mereka pun menjadi takut dan banyak dari mereka yang akhirnya bertobat dan menerima Injil.

Di sinilah kuasa Tuhan dinyatakan, karena itu jangan takut karena perlindungan Tuhan itu sempurna!

Sunday, April 8, 2012

YESUS TELAH BANGKIT: Kebenaran Berita Injil!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 April 2012 -

Baca:  Yohanes 20:1-10 

"Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati."  Yohanes 20:9

Hari ini ada sukacita besar!  Yesus Kristus telah bangikit di hari yang ke-3:  kuburNya kosong!  Kebangkitan Kristus berarti kemenangan iman Kristen;  dan ini merupakan penggenapan dari nubuat mengenai Mesias yang tertulis dalam Mazmur 16:10:  "...Engkau tidak menyerahan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan."

     Apabila Yesus Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman percaya kita dan kita pun masih hidup di dalam dosa.  Jika Kristus tidak dibangkitkan, Injil hanyalah sebagai buku cerita fiksi belaka dan percuma Injil diberitakan ke seluruh penjuru dunia ini.  Namun dengan kebangkitan Kristus di hari yang ketiga ini berita Injil adalah ya dan amin, itulah sebabkan Injil harus diberitakan.  Itulah sebabnya Tuhan Yesus memberi perintah kepada murid-muridNya dan juga kita,  "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah injil kepada segala makhluk.  Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum."  (Markus 16:15-16).  Jika Kristus tidak dibangkitkan, kelahiranNya dan kematianNya juga akan menjadi percuma dan sia-sia sehingga salib hanya akan menjadi akhir tragis dari kehidupan Yesus Kristus di bumi.

     Kebangkitan Kristus telah memberikan kepastian bahwa di balik kematian ada kehidupan.  Hal ini juga ditegaskan Tuhan Yesus sendiri,  "Akulah kebangkitan dan hidup;  barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,"  (Yohanes 11:25).  Jadi dengan kebangkitan Kristus ada jaminan pasti bahwa kita yang percaya juga akan dibangkitkan dari kematian dan beroleh kehidupan kekal.  Oleh karena itu Rasul Paulus menasihatkan,  "...saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!  Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58).  Namun sampai saat ini masih ada orang Kristen yang begitu mudahnya menjual imannya demi jabatan, harta, popularitas, dan juga pasangan hidup;  keselamtan ia tukarkan dengan kemewahan dunia ini.

Kebangkitan Yesus Kristus adalah bukti bahwa Dia adalah Tuhan dan bukti bahwa Injil Kristus adalah kebenaran sejati!

Saturday, April 7, 2012

YESUS KRISTUS SUDAH MENYELESAIKAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 April 2012 -

Baca:  Yohanes 19:28-42

"Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."  Yohanes 19:30

Pernyataan Yesus sudah selesai menunjukkan bahwa bagi Yesus salib bukan hanya sekedar penderitaan atau aniaya bagiNya, tetapi salib adalah sebuah tugas dan misi yang harus Ia emban dari Bapa.  Karena salib itu merupakan tugas yang tidak mudah, Yesus pun sujud dan berdoa,  "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."  (Matius 26:39).

     Ungkapan sudah selesai juga ungkapan bahwa Yesus telah menyelesaikannya dan taat sampai akhir seperti yang juga disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi,  "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:8).  Ketika Yesus disalibkan, Ia ditinggalkan oleh murid-muridNya.  Mereka kecewa karena Yesus tidak menyatakan diri sebagai raja, malah disalibkan.  Itulah sebabnya orang-orang Yahudi sampai hari ini tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat.

     Karena dosa, seharusnya kita yang menanggung hukuman, tapi kini telah diselesaikan oleh Kristus;  dan segala harga yang seharusnya kita bayar telah dilunasi olehNya.  Alkitab menyatakan,  "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:  Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu."  (1 Korintus 6:20).  Kita tahu harga dosa adalah maut dan penghukuman kekal.  Tetapi dalam Yesus Kristus telah diubah segala kutuk menjadi berkat;  dimerdekakan dari dosa menjadi hamba kebenaran!

     Bagaimana respons kita terhadap pengorbanan Kristus ini?  Dikatakan,  "Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu."  Keselamatan adalah anugerah terbesar dalam hidup kita, karena itu jangan pernah sia-siakan.  Jangan lagi kita hidup dalam dosa, melainkan mari kita hidup sebagai  'manusia baru'.  Dan selagi masih ada kesempatan mari kita gunakan untuk melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan memberi yang terbaik bagi Dia!

Ingatlah bahwa tidak ada satu pun orang yang tidak di dalam Yesus Kristus yang bisa lolos dari kebinasaan kekal, karena itu jangan sia-siakan keselamatan yang sudah kita terima ini;  mari kita kerjakan keselamatan ini dengan takut dan gentar pula!

Friday, April 6, 2012

KEMATIAN KRISTUS: Kita Diselamatkan dari Dosa!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 April 2012 -

Baca:  Yohanes 19:16b-27

"Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah."  Yohanes 19:18

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus dan wafatNya di Golgota.  Sudah menjadi hal yang umum bila acara yang berhubungan dengan kematian bukanlah sesuatu yang menyenangkan, sebab di mana ada kematian di situ juga ada air mata.

     Peristiwa kematian selalu diiringi dengan kesedihan dan kepedihan yang sangat mendalam.  Namun bagi orang percaya, kematian Yesus Kristus justru adalah peristiwa yang besar dan harus disyukuri, karena di dalam kematian Yesus Kristus ada pengampunan dosa, kita dibebaskan dari kutuk, ada masa depan dan memiliki pengharapan.  Tertulis:  "...masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang."  (Amsa 23:18).  Kematian Yesus Kristus yang berarti sorga bukan hanya angan-angan, tetapi menjadi bagian yang pasi bagi anak-anak Tuhan.  Kematian Yesus Krisus berarti pula jaminan bagi kita untuk mengalami berkat yang berkelimpahan.  Hal ini dinyatakan dalam Efesus 1:3:  "Terpujiah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga." 

     Di atas Golgota sepertinya Yesus Kristus mengalami kegagalan dan kehancuran.  Mungkin pada saat itu Iblis tertawa, tetapi justru di situlah kedaulatan Allah dinyatakan dan kemenangan diraih!  Memang, bagi dunia salib adalah kebodohan, tapi bagi kita salib adalah bukti kasih Allah yang menyelamatkan karena melalui kematian Yesus Kristus kita diselamatkan.  Maut tidak berkuasa lagi!  Jadi kekristenan tidak dapat dipisahkan dari 'salib'.  Hanya melalui iman percaya kita kepada Yesus Kristus, tanpa dikarenakan apa yang telah kita lakukan, keselamatan itu kita terima dengan cuma-cuma seperti tertulis:  "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus."  (Roma 3:23-24).  Sebagai orang-orang berdosa kita tidak sanggup membebaskan diri dari kutuk dosa, dan hanya melalui penumpahan darah Kristus di atas kayu salib inilah dosa-dosa kita ditebus.

Tanpa kematian Yesus Kristus tidak ada jalan keselamatan bagi umat manusia di muka bumi ini!

Thursday, April 5, 2012

JANGAN TERPENGARUH ORANG FASIK!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 April 2012 -

Baca:  Roma 2:1-16

"tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman."  Roma 2:8

Pembacaan firman Tuhan hari ini jelas menyatakan bahwa Tuhan  "...akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,"  (ayat 6).  Pasti kepada orang yang hidup dalam kebenaran akan diberikan kehidupan kekal;  sebaliknya bagi yang tetap hidup dalam kelaliman akan beroleh murka dari Tuhan, artinya penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang berbuat jahat.  Tetapi seringkali yang kita lihat adalah orang jahat tetap mujur dan sepertinya hidup dalam kebahagiaan.  Ini adalah penglihatan secara mata jasmani, namun tidaklah demikian adanya.  Mungkin mereka berlimpah dengan harta, tapi sesungguhnya jiwa mereka kosong, merana dan hatinya tidak tenang.  Hal inilah yang pasti mengganjal di benak setiap orang percaya, bahkan Yeremia pun menanyakannya kepada Tuhan:  "Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia?  Engkau membuat mereka tumbuh, dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga."  (Yeremia 12:1b-2a).

     Bukankah kita juga bersikap demikian:  iri hati dan marah kepada Tuhan?  Mungkin kita juga berkata dalam hati,  "Percuma bersusah payah melayani Tuhan, toh hidupku tidak ada perubahan.  Sudahlah tidak usah terlalu rohani, hidup seperti orang dunia saja."  Stop berpikir demikian!  Karena dengan tegas Alkitab mengatakan bahwa jika kita suam-suam kuku alias tidak dingin dan tidak panas, Tuhan akan memuntahkan kita dari mulutNya.

     Apa pun keadaannya janganlah kita sampai terpengaruh dan terbawa oleh arus dunia ini.  Tuhan menghendaki agar kita tetap setia sampai akhir.  Memang tidak mudah menjadi orang setia, terlebih di akhir zaman ini, di mana banyak sekali ujian dan tantangan yang menghadang hidup orang percaya.  Namun janji Tuhan jelas bahwa Dia akan  "...memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia,"  (Amsal 2:8) dan pada saatnya kita akan melihat bahwa Tuhan akan membuat perbedaan antara orang benar dan orang fasik  (baca Maleakhi 3:18).  Tuhan selalu adil dengan perbuatanNya, Ia pun akan membalaskan setiap orang setimpal dengan hasil perbuatannya!

Tetaplah hidup dalam kebenaran, sebab mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia!

Wednesday, April 4, 2012

DOSA ADALAH PEMBINASA HIDUP MANUSIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 April 2012 -

Baca:  Hosea 14:2-10

"Bertobatlah, hai Israel, kepada Tuhan, Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu."  Hosea 14:2

Akhir-akhir ini cuaca yang sangat ekstrem melanda negeri kita.  Hujan begitu lebatnya sehingga terjadi banjir di mana-mana disertai angin yang sangat kencang, sehingga pohon-pohon banyak yang tumbang seperti terjadi di Jakarta dan daerah-daerah lainnya.  Padahal pohon-pohon besar itu secara kasat mata kelihatan kuat dan kokoh berdiri;  bertahun-tahun diterpa panas terik, hujan lebat dan angin, sepertinya ia berdiri teguh dan tak tergoyahkan.  Tetapi suatu ketika ada hujan turun semalam-malaman dan angin bertiup sangat kencang, pohon besar itu pun langsung roboh.  Ternyata setelah diselidiki, mulai dari bagian akar hingga setengah dari tinggi pohon itu telah rapuh oleh gigitan rayap.  Seperti itulah dosa bekerja dalam diri seseorang!  Seperti rayap yang bekerja secara perlahan tapi pasti;  dosa bekerja tak terlihat oleh mata jasmani tapi pada saatnya ia akan menghancurkan hidup manusia.

     Pada zaman nabi Hosea bangsa Israel hidup dalam ketidaktaatan.  Mereka secara bebas melakukan perbuatan-perbuatan dosa dan hidup menurut kehendaknya sendiri tanpa menghiraukan firman Tuhan:  terlibat dalam penyembahan berhala, penipuan, perzinahan dan sebagainya.  Tuhan memakai Hosea untuk menegur mereka dengan keras.  "Aku membinasakan engkau, hai Israel, siapakah yang dapat menolong engkau?"  (Hosea 13:9).  Meski mendapat peringatan mereka tetap tidak bergeming.  Seringkali kia tidak menyadari betapa dosa membawa akibat yang sangat mengerikan,  "Sebab upah dosa ialah maut;"  (Roma 6:23).  Dosa benar-benar menjadi pembinasa yang keji bagi manusia dalam segala hal. 

     Seseorang yang hidup dalam dosa pasti tidak akan mengalami kebahagiaan dalam hidupnya.  Tertulis,  "'Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur.  Tiada damai bagi orang-orang fasik itu,' firman Allahku."  (Yesaya 57:20-21).  Oleh karena iu firman Tuhan tidak pernah berhenti mengingakan agar kita stop berbuat dosa selagi masih ada waktu dan kesempatan untuk hidup dalam pertobaan.

Dosa hanya membawa seseorang kepada ketidakbahagiaan, kehancuran dan kebinasaan!

Tuesday, April 3, 2012

HIDUP MANUSIA DI TANGAN SANG PENJUNAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 April 2012 -

Baca: Yeremia 18:1-17

"Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya."  Yeremia 18:4

Belajar tentang suatu hal tidak harus kita dapatkan di sekolah-sekolah formal, namun bisa juga melalui kehidupan di dunia luar:  membaca buku-buku bermutu, belajar dari pengalaman orang lain atau melalui kehidupan sehari-hari yang ada di sekitar yang kita lihat secara langsung.

     Inilah yang dilakukan nabi Yeremia, di mana ia melakukan pengamatan tentang kerja seorang penjunan atau tukang periuk.  Si nabi pun pergi mengunjungi rumah penjunan tersebut.  Ia melihat tukang periuk mengambil segumpal tanah liat dan membentuknya menjadi bejana.  Dalam proses pembuatan itu tiba-tiba bejana yang hampir dibentuknya retak dan rusak, namun si penjunan tidak langsung membuang bejana yang rusak itu;  dihancurkannya ke dalam tangannya dan dibentuknya kembali menjadi bejana yang lain (ayat nas).  Seorang penjunan pasti memiliki rencana bagi setiap gumpalan tanah liat yang dibentuknya.  Masing-masing tanah liat ia bentuk sesuai dengan sifat dan kualitas tanahnya.  Bukankah ada yang  "...untuk dipakai guna tujuan yang mulai dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?"  (Roma 9:21).

     Begitu juga dengan Tuhan terhadap kita.  Dia memiliki rencana yang agung bagi setiap orang percaya.  RancanganNya selalu baik, bukan rancangan kecelakaan, namun untuk memberikan pada kita hari depan yang penuh harapan (baca Yeremia 29:11).  Tuhan ingin kita menjadi bejana-bejana untuk hormat dan kemuliaan namaNya.  Tuhan tidak menghendaki seorang pun dari kita gagal di tengah jalan, karena itu  "...Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat."  (2 Petrus 3:9).  Sebagai Penjunan, Tuhan berkuasa untuk mengubah 'gumpalan tanah liat' yang jelek dan tidak berbentuk sekalipun menjadi bejana yang bagus dan berharga.

     FirmanNya,  "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju;  sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."  (Yesaya 1:18).  Kuasa Tuhan itu tak terbatas, Ia dapat melakukan apa saja, dapat mengampuni dan menyelamatkan orang yang berdosa.

Tangan Tuhanlah yang sanggup membentuk hidup kit adari yang rusak menjadi bejanaNya yang berharga!

Monday, April 2, 2012

TANPA PENGUASAAN DIRI, KITA AKAN JATUH (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 April 2012 -

Baca:  2 Petrus 1:3-15

"dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,"  2 Petrus 1:6

Setiap orang percaya dituntut untuk bisa menguasai lidah atau ucapannya, karena banyak sekali pelanggaran dan kesalahan dibuat lidah atau ucapan kita.  Bisa dikatakan bahwa salah satu pergumulan terbesar dalam kehidupan orang percaya adalah bagaimana mengekang lidah.  Ini menunjukkan bahwa menguasai lidah bukanlah pekerjaan gampang.

     Seseorang yang dapat menguasai lidahnya bisa diumpamakan seperti kekang pada mulut kuda, dan kemudi pada kapal yang berlayar di tengah angin keras.  Seringkali kita tidak dapat menguasai lidah kita saat kita sedang marah atau tersinggung oleh perkataan orang lain, atau seringkali perkataan yang keluar dari mulut kita adalah perkataan kotor, kasar dan melukai orang lain.  Tidak sedikit masalah yang terjadi dalam hidup kita bersumber dari ketidakmampuan kita menguasai lidah atau ucapan yang keluar dari mulut kita.

     Melanjutkan poin kemarin, yang tak kalah penting untuk kita perhatikan adalah:  3.  Mata.  Ada tertulis:  "Mata adalah pelita tubuh.  Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;  jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.  Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu."  (Matius 6:22-23).  Jika kita tidak bisa menguasai penglihatan kita, kita akan mudah terperosok ke dalam berbagai hawa nafsu kedagingan.  Banyak kasus pemerkosaan terjadi sebagai akibat dari seseorang yang tidak bisa menguasai matanya yang melihat hal-hal yang berbau pornografi.  Juga karena matanya 'silau' melihat kemewahan dunia ini tidak sedikit orang berusaha untuk menimbun kekayaan meski dengan cara yang tidak halal:  curang, korupsi, manipulasi dan sebagainya.  Benar apa yang dikatakan Yakobus bahwa  "...tiap-tiap orang yang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya."  (Yakobus 1:1-14).  Sejauh mana kita dapat menguasai diri?

     Perlu kita perhatikan bahwa penguasaan diri merupakan aspek yang perlu dilatih terus-menerus dan membutuhkan proses, tidak turun dari langit dalam sekejap.  Itula sebabnya kita harus melatih roh kita supaya kuat sehingga kita dapat menaklukkan kedagingan kita dan bisa menguasai diri.

Tidak ada jalan lain selain harus makin mendekatkan diri kepada Tuhan setiap waktu.

Sunday, April 1, 2012

TANPA PENGUASAAN DIRI, KITA AKAN JATUH (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 April 2012 -

Baca:  Amsal 16:1-33

"Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota."  Amsal 16:32

Seseorang yang kuat secara fisik, mungkin badannya besar dan berotot, belum tentu juga kuat secara roh dan mampu menguasai dirinya sendiri.  Kita bisa belajar dari kehidupan Simson, di mana Alkitab mencatat bahwa ia sangat kuat, bahkan mampu mengalahkan ribuan orang Filistin dan menguasai sebuah kota.  Tapi Simson tidak berdaya di hadapan Delilah.  Ia tak mampu mengendalikan nafsu kedagingannya sehingga dengan mudahnya ia diperdaya oleh seorang wanita sehingga ia menceritakan rahasia kekuatannya.  Maka akibat tidak dapat menguasai diri Simson harus mengalami nasib yang tragis.  Simson tak dapat disebut sebagai orang yang kuat dalam roh.  Jadi penguasaan diri seseorang itu lebih utama daripada kekuatan fisik karena ini berhubungan dengan karakter.

     Arti penguasaan diri adalah:  dapat mengendalikan diri;  mampu mengontrol diri;  suatu kekuatan dalam diri seseorang untuk menjauhkan diri dari dosa dan tidak menuruti keinginan daging.  Begitu pentingkah penguasaan diri bagi orang percaya?  Ya, sangat penting.  Kita harus dapat menguasai diri dalam hal apa?  1.  Pikiran.  Jika kita tidak dapat menguasai pikiran kita akan berakibat pada tindakan-tindakan yang tidak dapat dikuasai pula.  Jika kita tidak bisa menguasai pikiran kita, pikiran kita pun akan dipenuhi oleh hal-hal yang negatif, yang pastinya akan berdampak pada perbuatan negatif pula.  Oleh karena itu Rasul Paulus berkata,  "...Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,"  (2 Korintus 10:5b).  Kita harus memiliki pikiran Kristus, artinya pikiran yang dipenuhi oleh firman Tuhan.  Jika pikiran kita terus diisi oleh firman Tuhan, segala tindakan dan perbuatan kita akan terarah dan terkontrol.  Daud berkata,  "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."  (Mazmur 119:105).  Memiliki pikiran Kristus berarti juga mencari dan memikirkan  "...perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah."  (Kolose 3:1).

     2.  Lidah atau ucapan.  Dalam Amsal 21:23 dikatakan,  "Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran."  Maka dari itu kita harus dapat menguasai lidah atau ucapan kita.  Yakobus mengibaratkan lidah kita itu seperti api,  "...betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar."  (Yakobus 3:5b).  (Bersambung)