Sunday, October 31, 2010

TIADA YANG SEBANDING DENGAN KUASANYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Oktober 2010 -

Baca: Yesaya 40:12-31

"Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?"  Yesaya 40:18

Apakah yang menjadi kebanggan kita saat ini:  harta, jabatan, atau kepandaian kitakah?  Ingatlah, teknologi secanggih apa pun tidak mampu menjamin kita dapat luput dari masalah, bahkan bahaya yang mengancam di depan mata pun tak dapat kita hindari.  Lalu ke mana kita dapat lari dan mencari tempat perlindungan yang aman?  Dapatkah kita membeli rasa aman itu dengan uang?  Maka dengan kata lain, segala sesuatu yang ada di dunia ini dapat lenyap dan musnah begitu saja; jika hal itu seijin Tuhan, terjadilah.  Manusia mungkin bisa memperediksi keadaan cuaca dan sebagainya, namun siapakah yang dapat menanggulangi bencana yang tiba-tiba datang tanpa diduga sebelumnya?  Banyak korban berjatuhan karena gempa, tanah longsor, banjir bandang, kecelakaan pesawat dan lain-lain.  Dan semua itu di luar perkiraan manusia.

     Tuhan berkata, "Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca.  Sesungguhnya, pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya."  (ayat 15).  Dari pernyataan ayat ini terlihat betapa kecilnya manusia di mata Tuhan.  Jadi sungguh tidak ada yang membuat Tuhan terpesona dari diri kita selain hati yang selalu berpaut kepadaNya, karena hanya dengan hati yang selalu berharap dan mengandalkan Tuhanlah yang membuat Dia tidak rela membiarkan kita celaka; tanganNya yang berkuasa itu selalu melindungi dan menjaga kita dari bahaya yang mengancam.

     Namun masih banyak orang sering meragukan kuasa Tuhan hanya karena mereka tidak sabar menanti pertolongan Tuhan.  Akibatnya mereka condong mencari pertolongan atau menerima tawaran dari dunia yang sepertinya dapat menjawab pergumulannya secara instan atau GPL (gak pake lama - prokem, red.).  Mereka berpaling pada ilah-ilah lain, pranormal, suhu, benda keramat dan lain-lain. Namun apa pun dan siapa pun yang ada di dunia ini tidak ada yang sebanding dengan kuasa Tuhan!  Dialah yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya.  Tertulis: "Langit adalah takhtaKu dan bumi adalah tumpuan kakiKu;"  (Yesaya 66:1a).  Adalah perbuatan kurang cerdik jika masih ada orang Kristen yang mencari pertolongan selain kepada Tuhan.

Ingatlah ini:  Tuhan Yesus itu sudah cukup bagi kita, karena kuasaNya tak terbatas dan tiada bandingannya.

Saturday, October 30, 2010

IRI HATI SEORANG SAUDARA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Oktober 2010 -

Baca: Lukas 15:11-32

"Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu itu untuk dia."  Lukas 15:30

Dalam kitab Perjanjian Baru kita jumpai perasaan iri hati antara dua bersaudara:  anak sulung iri kepada adiknya yang baru pulang dari pengembaraannya setelah menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya.  Setelah anak terhilang itu menyesal atas perbuatan dosanya, ia kembali ke rumah bapanya.  Tentu saja bapa bersukacita karena mendapatkan anaknya yang terhilang kembali ke rumahnya sehingga bapa membuat suatu pesta dan menyembelih anak lembu tambun.  Hal ini menimbulkan kemarahan dan iri hati dalam hati si anak sulung.

     Sebagaimana Bapa Sorgawi bersukacita atas pertobatan seorang berdosa, maka seharusnya kita juga bersukacita bila ada saudara kita yang terjatuh kembali bertobat.  Jangan kita memusuhi atau mengungkit kembali dosa lamanya karena dia sudah bertobat, apalagi menghakimi, itu bukan wewenang kita.  Maksud anak sulung itu mungkin agar bapanya memberi hajaran kepada adinya, dengan demikian adiknya dapat merasakan derita akibat perbuatannya yang salah itu.  Dalam hal ini Tuhan Yesus berkata, "Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."  (Lukas 15:7).  Perkataan Tuhan Yesus ini sungguh mengena sasaran, karena bukankah di masa kita banyak orang yang merasa dirinya benar sehingga tidak perlu bertobat dan tak lagi memerlukan Tuhan Yesus?  Bila melihat ada saudara seiman yang terjatuh ke dalam dosa, lalu bertobat dan kembali duduk di gereja, seringkali kita malah bergosip dan menjadi panas hati, lalu berkata."Mengapa Tuhan tidak memberikan hukuman atau hajaran ke dia ya?"

     Itu adalah sikap yang tidak benar!  Dari pada kita menghakimi mereka, lebih baik kita bersikap seperti Yesus.  Dengan kasihNya Ia menerima orang berdosa yang telah bertobat kembali.  Tuhan Yesus berkata,  "...barangsiapa yang datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang."  (Yohanes 6:37).

Jika Tuhan Yesus saja tanganNya terbuka, menerima serta mengasihi orang berdosa yang telah bertobat, mengapa kita justru menolak dan memandang sinis keberadaan mereka?  Bukankah kita dulu juga orang yang penuh dosa?

Friday, October 29, 2010

SAAT MENUAI TAK SAMA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Oktober 2010 -

Baca: Galatia 6:1-10

"Karena apa yang ditabur orang itu, itu juga yang akan dituainya."  Galatia 6:7b

Banyak orang yang melakukan kejahatan atau ketidakadilan sama sekali tak memikirkan akibatnya di kemudian hari.  Mereka tak mengerti bahwa apa pun yang ditabur itulah yang akan dituainya.  Tapi saat menuai bagi setiap orang itu berbeda waktunya.  Sama halnya bila kita menabur benih padi atau jagung, bertumbuhnya dan waktu memanennya pasti berbeda waktunya, meski benih itu kita tabur dalam waktu bersamaan.  Seseorang yang menabur kejahatan atau berlaku keji terhadap orang lain mungkin belum mengalami perubahan apa-apa dalam hidupnya untuk sekian lama.  Mereka masih dapat menikmati hidup dengan santai, tetapi mungkin setelah menginjak masa tua, tanpa disadarinya, semua perbuatan yang ditaburnya itu ia tuai.  Mereka panen, tapi panen hal-hal buruk yang sama sekali tak diharapkan terjadi.  Mungkin sakit-penyakit mulai menggerogoti atau juga ekonomi mulai guncang.  Mungkin juga apa yang didambakan dari anak-anaknya sebagai harapannya di masa tua tak terwujud.

     Alkitab menyatakan, "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menai hidup yang kekal dari Roh itu."  (ayat 8).  Sebab itu perhatikanlah hal ini:  "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah."  (ayat 9).  Mungkin kita mereasa jemu berbuat baik, karena sepertinya perbuatan baik kita itu tidak menampakkan hasil apa-apa bagi kita.  Tapi jangan lupa, saat menuai itu belum tentu sekarang, mungkin 5 atau 10 tahun kemudian, mungkin juga anak-cucu kita yang akan menuainya.  Yang dituai itu pastilah hal-hal yang baik sesuai dengan apa yang kita tabur.  Coba bayangkan!  Jika orangtua menabur kejahatan dan yang menuai bukan dirinya sendiri, melainkan anak cucunya, kasihan sekali anak cucunya, bukan?

     Alkitab menegaskan bahwa perbuatan orang benar akan juga belaku sampai ke anak-cucunya; demikian juga perbuatan jahat, tuaiannya juga berlaku sampai ke anak-cucu.  Inilah pengalaman Daud:  "Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;"  (Mazmur 37:25).

Karena itu, selama masih ada kesempatan, marilah kita menabur kebaikan; pada saatnya kita pasti akan menuai! Amin   

Thursday, October 28, 2010

KEDATANGAN TUHAN YESUS: Singa dan Tetap Setia

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Oktober 2010 -

Baca:  Matius 24:45-51

"Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang."  Matius 24:46

Sesungguhnya kalau kita peka, semua tanda kedatangan Tuhan itu sudah ada di sekitar kita.  Ini adalah zaman untuk bersiap sedia!  Inilah saatnya kita hidup selaras dengan firman Tuhan dan tidak sembrono lagi.  Dan saatnya pula menetapkan prioritas-prioritas atau pilihan hidup yang benar, serta tidak lagi menabur dalam daging melainkan menabur dalam Roh (baca Galatia 6:8).  Mulai hari ini  "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan di bumi."  (Kolose 3:2) seperti yang dilakukan Paulus:  "...kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal."  (2 Korintus 4:18).

     Menyadari bahwa kita benar-benar hidup pada zaman akhir sebagaimana dikatakan Alkitab, kita pun harus lebih sungguh-sungguh melayani Tuhan dan menggunakan kesempatan yang ada untuk memberitakan Injil kepada teman-teman atau kerabat kita yang belum diselamatkan, sebab waktunya hampir habis.

     Tuhan Yesus pun memberikan peringatan, "Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar."  (Matius 24:43).  Jadi, tidak ada pencuri yang akan mengumumkan waktu kedatangannya ke suatu rumah sehingga si tuan rumah akan bersiap siaga.  Ini hanya gambaran tentang kedatangan yang tak terduga.  Dalam hal ini Yesus tidak sedang mengidentifikasikan diriNya sebagai pencuri.  Maka dari itu marilah kita memposisikan diri debagai seorang hamba yang setia, yang tetap tekun mengerjakan setiap tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita, apa pun bentuknya.

     Apa yang akan kita perbuat seandainya kita tahu sisa hidup kita ini hanya tinggal sebulan atau setahun lagi?  Waktu, tenaga dan materi yang kita punya akan kita unakan untuk apa?  Meski banyak orang tidak percaya akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, hal ini sama sekali tidak akan mempengaruhi atau mengubah kedaanganNya.  Dia akan segera datang!  Tidak peduli apakah kita percaya atau tidak, siap atau tidak siap.  Ini hanyalah masalah waktu! 

"Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang."  Matius 24:46

Wednesday, October 27, 2010

KEDATANGAN TUHAN YESUS: Yang Tak Terduga

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Oktober 2010 -

Baca:  Matius 24:37-44

"Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."  Matius 24:44

Dalam sejarah manusia, Tuhan Yesus telah datang ke dunia ini satu kali.  Ketika itu Dia datang sebagai Anak Manusia, namun kelak Dia pun akan datang kembali.  Tetapi pada kedatanganNya yang kedua Dia akan datang sebagai Tuhan yang Mahakuasa.  Dahulu Dia datang sebagai Anak Domba, kelak Dia akan datang sebagai Singa Yehuda.  Alkitab menulis:  "Jangan engkau menangis!  Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya."  (Wahyu 5:5)

     Yesus akan datang sebagai Raja atau segala raja dan Tuhan atas segala tuhan.  KedatanganNya yang pertama di dunia adalah untuk menebus dosa umat manusia, sedangkan nantinya Dia akan datang untuk menghakimi orang berdosa.  Tetapi dikatakan bahwa "...tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri."  (Matius 24:36).  Ayat ini menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui hari dan saat kedatangan Yesus, bahkan malaikat-malaikat di sorga dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendirilah yang tahu.  Yesus mengatakan hal ini dengan tujuan agar para muridNya tidak mempersoalkan kapan Dia akan datang kembali, dengan harapan mereka senantiasa dalam kondisi siap menantikan kedatanganNya.

     Kisah air bah di zaman Nuh disampaikan Yesus untuk menggambarkan tentang kedatangannya, di mana orang-orang di zaman Nuh itu sangat tidak peduli perihal akan terjadinya air bah.  Namun Allah sudah memperingatkan mereka melalui Nuh yang Ia tugaskan untuk membangun bahtera dan menyerukan kepada mereka untuk segera bertobat, karena air bah akan segera melanda bumi.  Namun reaksi orang-orang pada waktu itu acuh tak acuh, mencemooh dan bahkan mentertawan Nuh.  Bukannya bertobat, tapi mereka semakin lama malah semakin jahat (baca Kejadian 6:5). 

     Bukankah sikap mereka itu tak jauh berbeda dengan keadaan orang-orang di zaman sekarang ini?  Kini banyak orang bersikap acuh dan tidak peduli terhadap perkara-perkara rohani, pikirnya:  "Kapan Tuhan datang?  Dari dulu juga dikatakan seperti itu.  Bosan mendengarnya.  Mana buktinya?  Masa bodoh, ah!"  (Bersambung).

Tuesday, October 26, 2010

DALAM KESESAKAN BERSERULAH KEPADA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Oktober 2010 -

Baca:  Yeremia 38:1-13

"Kemudian mereka menarik dan mengangkat Yeremia dengan tali dari perigi itu."  Yeremia 38:13a

Mungkin kita berkata dalam hati, "Mereka menjadi orang percaya ternyata tidak mudah, acapkali kita diperhadapkan pada masalah atau kesesakan."  Tapi bukan hanya orang Kristen saja yang punya masalah, semua orang tanpa terkecuali (selama masih bernafas di dunia ini) pasti punya masalah.  Jadi kita tidak mengalaminya sendiri!  Karena itu, stop mengasihani diri sendiri karena ada satu hal yang pasti, yaitu jaminan pemeliharaan Tuhan bagi anak-anakNya.  Pemazmur berkata, "Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu;"  (Mazmur 34:20).  Tuhan selalu punya cara ajaib untuk menolong dan menyediakan jalan keluar bagi setiap permasalahan.  Masalah tidak hanya dialami orang Kristen awam, tapi bisa terjadi dalam kehidupan pelayan Tuhan atau orang-orang yang terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan.

     Yeremia, meskipun sebagai nabi Tuhan, pun mengalami masa-masa yang sulit.  Ketika menyampaikan nubuat yang diperintahkan Tuhan kepadanya, Yeremia dibenci dan dianiaya.  Tertulis: "Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi..., mereka menurunkan Yeremia dengan tali.  Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu."  (Yeremia 38:6).  Dalam keadaan demikian, sudah tentu sebagai manusia Yeremia merasa takut dan nyaris putus asa.  Tetapi Yeremia tidak berteriak-teriak minta tolong kepada manusia.  Alkitab mencatat Yeremia berseru kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku memanggil namaMu dari dasar lobang yang dalam.  Engkau mendengar suaraku!  Janganlah Kaututupi telingaMu terhadap kesahku dan teriak tolongku!"  (Ratapan 3:55-56).

     Sungguh, Tuhan itu bukan Tuhan yang tuli, Dia mendengar teriak anak-anakNya yang berada dalam kesesakan.  Maka Tuhan memakai Ebed-Melekh untuk menyelamatkan Yeremia.  Orang Etiopia itu melapor kepada raja bahwa Yeremia telah dimasukkan dalam perigi (Yeremia 38:7-9).  Lalu raja menyuruh Ebed-Malekh untuk membebaskan Yeremia, "Bawalah tiga orang dari sini dan angkatlah nabi Yeremia dari perigi itu sebelum ia mati!"  (Yeremia 38:10).  Bila saat ini kita sedang dalam 'perigi masalah' dan sepertinya tidak ada harapan, berserulah kepada Tuhan, Dia pasti akan memberikan jalan keluar yang terbaik.

Kata Yeremia, "Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku."  Ratapan 3:58

Monday, October 25, 2010

PERIHAL LIDAH: Tajam dan Berbahaya

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Oktober 2010 -

Baca:  Mazmur 52:1-11

"Engkau merancangkan penghancuran, lidahmu sepeti pisau cukur yang diasah,..."  Mazmur 52:4

Lidah kita ini tajam ibarat sebuah pisau, karena itu kita harus berhati-hati menggunakannya.  Manfaat sebuah pisau sangat bergantung di tangan siapa pisau tersebut berada.  Pada dasarnya pisau berfungsi untuk mengupas atau memotong sayur, buah-buahan dan sebagainya.  Namun jika kita tidak berhati-hati, pisau bisa saja melukai dan menyakiti kita sendiri atau orang lain.  Tuhan menciptakan lidah untuk tujuan yang positif, dan pada saatnya Dia akan meminta pertanggungjawaban dari tiap-tiap kita.

     Apa yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan berkenaan dengan lidah atau ucapan kita?  Ialah bagaimana kita menggunakan lidah kita setiap hari.  Apakah perkataan kita sudah menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita?  Berapa jiwa yang sudah kita menangkan melalui perkataan kita?  Ataukah banyak orang menjadi terluka karena lidah kita yang tajam, perkataan kita sangat kasar, pedas dan menyakitkan?  Apakah lidah kita selalu menggemakan kata-kata negatif dan kutuk?  Tuhan menghendaki agar dari lidah kita keluar kata-kata berkat yang menguatkan semangat orang lain sehingga kita menyelamatkan mereka dari keputusasaan dan kekecewaan.  Hati-hatilah dengan lidah kita, karena bila salah menggunakannya akan sangat berbahaya.  Alkitab mengingatkan kita tentang lidah yang berbahaya, di antaranya lidah yang tidak dikekang.  "Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya."  (Yakobus 1:26).  Adalah percuma kita rajin ibadah ke gereja atau persekutuan jika kita tidak bisa mengekang lidah kita dari ucapan-ucapan yang jahat.  Selain itu lidah juga bisa 'membunuh' orang lain (baca Yeremia 9:8);  lidah yang mengacaukan:  suka memfitnah, mengadu domba atau menipu (baca Mazmur 52:6);  lidah yang bercabang (Amsal 10:31).

     Bila kita menyadari betapa berbahayanya lidah, kita pun harus berhati-hati.  Bagaimana kita menggemakan lidah itu sangat mempengaruhi kehidupan kekristenan kita.  Kita harus melatih lidah kita agar selaras dengan firman Tuhan:  selalu bersih, selalu menjadi berkat dan menyenangkan hati Tuhan.

Mari pergunakan lidah untuk meluaskan kerajaanNya di bumi:  untuk bersaksi, menaikkan pujian bagi Tuhan, memberikan firmanNya;  bukan untuk perkara sia-sia!

Sunday, October 24, 2010

TETAP MENERIMA GANJARAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Oktober 2010 -

Baca: Bilangan 27:12-23

"Tuhan berfirman kepada Musa: 'Naiklah ke gunung Abarim ini, dan pandanglah negeri yang Kuberikan kepada orang Israel.' "  Bilangan 27:12

Allah adalah Pribadi yang Mahakasih dan juga Mahaadil.  Setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap firmanNya pasti akan menerima ganjaran atau sanksi tanpa terkecuali, tidak peduli ia seorang presiden, orang kaya, miskin, berpangkat dan sebagainya.  Hal ini juga dialami Musa.  Meski ia nabi Allah, dipilih oleh Allah sendiri untuk menjadi pemimpin bangsa Israel dan membawa mereka keluar dari Mesir, Musa pun tak luput dari ganjaran.

     Suatu ketika Musa melakukan suatu kecerobohan: mengeluarkan perkataan tak berkenan pada Allah di hadapan bangsa Israel sehingga ia harus menerima akibatnya, tak dapat masuk ke negeri yang dijanjikan Allah.  Meskipun demikian Allah sangat mengasihi Musa dan ia pun masih diberi kesempatan untuk memandang negeri perjanjian itu meski hanya dari kejauhan.  Allah berkata, "Naiklah ke gunung Abarim ini, dan pandanglah negeri yang Kuberikan kepada orang Israel.  Sesudah engkau memandangnya, maka engkaupun juga akan dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, abangmu, dahulu."  (ayat 12-13).  Ini mencerminkan betapa Allah sangat mengasihi Musa, dan sesungguhnya hatiNya pilu karena harus memberi ganjaran kepada Musa.  Namun karena Dia Mahaadil, maka segala sesuatu yang telah Ia tetapkan pasti dilaksanakan bagi siapa pun tanpa pandang bulu.  "Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?"  (Bilangan 23:19b).

     Kata ganjaran mengandung arti hajaran untuk mendidik seseorang supaya sadar akan kesalahannya agar dapat hidup benar, atau mendisiplinkan dengan didikan yang disertai dengan sanksi.  Allah ingin Musa mengerti mengapa ia tak diperkenankan masuk ke negeri yang dijanjikanNya.  Allah tak ingin Musa punya respons yang salah tentang ganjaran yang diterimanya.  Itulah sebabnya Allah menjelaskan kepada Musa sebelum ia meninggal, " 'Karena pada waktu pembantahan umat itu di padang gurun Zin, kamu berdua telah memberontak terhadap titahKu untuk menyatakan kekudusanKu di depan mata mereka dengan air itu.'  Itulah mata air Meriba dekat Kadesy di padang gurun Zin."  (Bilagan 27:14).  Betapa pun Allah mengasihi Musa, ia tetap tak dapat masuk ke negeri perjanjian.  Setelah itu "...matilah Musa, hamba Tuhan itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman Tuhan."  (Ulangan 34:5).

Sekecil apa pun pelanggaran, selalu ada harga yang harus dibayar!

Saturday, October 23, 2010

TAK SENDIRI. ALLAH MENOPANG DENGAN LENGANNYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Oktober 2010 -

Baca: Ulangan 31:1-8

"Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."  Ulangan 31:8

Sekarang ini banyak orang dikejutkan dengan keadaan dunia yang berubah-ubah, susah untuk diprediksi.  Contoh dalam hal musim di negeri kita.  Dulu orang bisa menebak dengan mudah kapan musim kemarau terjadi dan kapan juga dimulainya musi penghujan.  Kini?  Musim tidak menentu dan sangat membingungkan.

     Sesungguhnya generasi-generasi terdahulu sudah mengingatkan kita pada ketidakpastian dan kemerosotan nilai-nilai dalam dunia ini.  Jika memperhatikan keadaan yang ada kita menjadi pesimis menghadapi hari esok.  Tetapi sebagai anak Tuhan janganlah kita berkecil hati karena kita memiliki Allah yang kuasaNya tidak berubah.  Dia berjanji akan menyertai kita sampai kesudahan zaman.  FirmanNya, "Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah,..."  (Maleakhi 3:6).  Karena Allah tidak berubah kita dapat menjadikanNya sebagai tempat perlindungan.  "Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal.  Ia mengusir musuh dari depanmu dan berfirman:  Punahkanlah!"  (Ulangan 33:27).  Lengan Allah yang kekal adalah tempat yang sangat aman dan benteng bagi setiap kita yang mencari perlindungan dan keamanan.  Lengan Allah yang kekal adalah lengan yang kuat dan penuh dengan kuasa seperti dilukiskan dalam Yeremia 32:17:  "Ah, Tuhan Allah!  Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatanMu yang besar dan dengan lenganMu yang terentang.  Tiada suatu apapun yang mustahil untukMu!"

     Jadi, tiada yang mustahil bagi Allah, Dia menciptakan langit dan bumi dengan lenganNya yang kekal dan penuh kuasa itu.  Jika Tuhan Allah mampu menciptakan alam semesta dengan kuasaNya, apakah menurut kita masih ada hal yang terlalu sukar bagi Dia?  Allah dapat menciptakan segala sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini.  Percaya dan bergantunglah penuh pada lenganNya yang kekal itu.  Karena Allah tidak berubah adanya, Dia masih memiliki kuasa untuk menciptakan segala sesuatu dengan lenganNya yang kekal itu.  Dia berkata, "Mungkinkah tanganKu terlalu pendek untuk membebaskan atau tidak adakah kekuatan padaKu untuk melepaskan?"  (Yesaya 50:2b).

Sampai saat ini kuasa Allah masih tersedia bagi kita.  Masihkah kita ragu akan kuasaNya?

Friday, October 22, 2010

PENGAMPUNAN TUHAN ATAS KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Oktober 2010 -

Baca: Matius 18:23-35

"Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?"  Matius 18:33

Dalam perumpamaan yang kita baca hari ini Tuhan Yesus menyatakan betapa kejamnya di hadapan Allah, orang yang tidak mau mengampuni orang lain.  Bila kita tidak mau mengampuni orang lain, kita ini disebut sebagai hamba-hamba yang kejam.

     Hamba yang kejam dalam bacaan itu mempunyai hutang kepada tuannya sebesar 10.000 talenta, namun ia dibebaskan (10.000 talenta menggambakan betapa besar dosa manusia dan pengampunan Tuhan kepada kita).  Akan tetapi dia tak mau membebaskan hutang temannya yang hanya 100 dinar saja, bahkan dipenjarakannya sampai ia melunasi hutangnya.  Perbuatan ini sangatlah kejam, tidak berperikemanusiaan.  Demikianlah kita akan dinilai Bapa seperti ini bila kita tidak mau mengampuni orang lain.  Bukankah kita sudah dibebaskan dari segala dosa kita dan beroleh kasih karuniaNya?  "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu."  (Yesaya 43:25).

     Dosa dari pelanggaran kita sudah diampuni Tuhan melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib.  Bukankah kita juga patut mengampuni orang yang bersalah kepada kita?  Orang Kristen yang tidak bisa mengampuni orang lain menjadi orang yang kekurangan kasih karunia di hadapan Allah.  Jangan sampai nantinya Raja di atas segala raja memanggil kita dan berkata, "Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.  Bukankah engkaupun harus mengasihi kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?"  (Matius 18:32-33).  Bila kita menghargai betapa pengampunan Tuhan diberikan kepada kita, maka hendaknya pengampunan itu juga dapat kita berikan kepada orang lain.

     setiap orang yang telah menerima kasih karunia dan pengampunan dari Bapa harus belajar mengampuni orang lain dan mengasihani mereka.  Raja itu marah kepada hamba yang tak mau mengampuni, "Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya."  (Matius 18:34).  Perhatikan kata Tuhan Yesus, "...BapaKu yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."  (Matius 18:35).

Belajarlah mengampuni orang lain, karena dosa-dosa kita pun telah diampuni Tuhan; jika tidak, kita pun tidak akan diampuni lagi Tuhan.

Thursday, October 21, 2010

PENGAKUAN IMAN ORANG PERCAYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Oktober 2010 -

Baca: Ibrani 4:14-16

"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita."  Ibrani 4:14

Dalam kitab Perjanjian Baru ada beberapa jenis pengakuan yang dibicarakan, di antaranya adalah:  1.  Pengakuan mengenai orang-orang Yahudi.  Tuhan menuntut agar orang-orang pilihanNya mau mengakui dosa-dosa mereka dengan maksud agar mereka dipulihkan.  Tertulis:  "Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan.  Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan."  (Matius 3:5-6)

     2.  Pengakuan orang berdosa.  Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang berdosa dinyatakan bersalah oleh kuasa Roh Kudus hanya oleh satu dosa saja, yaitu  "...karena mereka tetap tidak percaya kepadaKu;"  (Yohanes 16:9).  Jika orang berdosa mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, ia akan diselamatkan sebagaimana dikatakan dalam Alkitab,  "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.  Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan."  (Roma 10:9-10).

     Kita harus mengerti bahwa kedua macam pengakuan yang dilakukan oleh orang percaya meliputi pengakuan akan dosa-dosanya dan juga pengakuan akan imannya.  Pengakuan dosa dilakukan bilamana ia kehilangan persekutuan dengan Tuhan, karena yang menjadi pemisah antara kita dengan Tuhan adalah segala dosa kita (baca Yesaya 59:2).  Namun, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."  (1 Yohanes 1:9).

     Apa yang dimaksud dengan pengakuan iman akan firman Tuhan dalam Kristus dan dalam Allah Bapa kita?  Yakni yang menjadi pengakuan kita sebagai orang percaya, yaitu Yesus Kristus yang adalah Anak Allah.  Pribadi Yesus inilah yang harus kita saksikan kepada orang lain karena kesaksian merupakan bagian dari pengakuan. Namun nampaknya masih banyak orang Kristen yang malu bersaksi tentang Yesus kepada orang lain...

Alkitab menegaskan:  barangsiapa mengakui Yesus di hadapan manusia, Tuhan pun akan mengakuinya di depan Bapa (baca Matius 10:32).

Wednesday, October 20, 2010

HIDUP DALAM DAMAI SEJAHTERA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Oktober 2010 -

Baca: Yesaya 26:1-21

"Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepadaMulah ia percaya."  Yesaya 26:3

Iblis tidak dapat mengambil atau merampas berkat Tuhan dari kita jika kita berada dalam otoritas Kristus dan taat pada firman Tuhan.  Iblis hanya dapat mencuri damai sejahtera itu jika kita membiarkannya menyerang atau jika kita tidak taat melakukan apa yang firman Tuhan perintahkan untuk dilakukan di tengah-tengah badai hidup yang melanda.  Apabila kita taat kepada Tuhan, Tuhan akan memelihara kita.  "Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,"  (Yesaya 48:18).

     Ketaatan kita kepada Tuhan akan menghasilkan kedamaian seperti sungai yang terus mengalir dengan derasnya.  Jika kita membiarkan damai sejahtera Tuhan memerintah dalam hati kita dengan cara tidak memberi kesempatan pada kekuatiran untuk masuk, maka roh ketakutan pun akan terusir.  Seringkali problema dan kesukaran yang menindas hati serta pikiran kita hanyalah imajinasi kita belaka.  Sesungguhnya Tuhan akan memelihara kita dalam damai sejahteraNya yang sempurna jika pikiran kita terus tertuju pada Tuhan.  Jadi, dalam keadaan apa pun kita harus memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan dan merenungkan firmanNya siang dan malam, sehingga jika tiba-tiba kita diperhadapkan pada keadaan yang sulit kita akan mampu menanggapinya dengan tenang.  Maka dalam menghadapi segala sesuatu Rasul Paulus menasihati, "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,"  (Filipi 2:5).

     Jika kita selalu mengijinkan pikiran untuk terus tinggal dalam masalah dan kita tidak menyerahkan ketakutan itu kepada Tuhan, maka masalah yang sebenarnya hanya merupakan lekukan kecil itu akan menjadi gunung yang tinggi dan akan sukar sekali untuk disingkirkan.  Kita harus menghapus imajinasi itu dan mengarahkan pikiran kita kepada firman Tuhan, atau jika tidak, kecemasan akan merampas damai sejahtera yang menjadi hak kita sebagai anak-anak Tuhan, sebab damai sejahtera itu pemberian Tuhan dan tidak mungkin kita dapat dari dunia ini.

Hidup dalam damai sejahtera sangat ditentukan oleh ketaatan kita terhadap firman Tuhan.

Tuesday, October 19, 2010

KASIH KARUNIA TUHAN BAGI PAULUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Oktober 2010 -

Baca: 1 Timotius 1:12-20

"Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya:  'Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa.' dan di antara mereka akulah yang paling berdosa."  1 Timotius 1:15

Rasul Paulus berkata, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman."  (2 Timotius 4:7).  Inilah pernyataan Paulus bahwa ia telah mengakhiri pertandingan dengan baik, telah mencapai garis akhir serta telah memelihara iman.  Tetapi ia masih menyebut dirinya sebagai orang yang paling berdosa.  Kata 'akulah' (ayat nas) benar-benar menunjukkan pengakuan diri yang mendalam bahwa ia sama sekali tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.

     Paulus bersaksi kepada orang lain bahwa ia sepenuhnya bergantung pada kasih karunia Allah.  Alkitab menegaskan, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus."  (Roma 3:23-24).  Rasul Paulus mengakui bahwa ia telah dibenarkan, dan itu sepenuhnya karena kasih karunia Allah.  Ia menganggap dirinya lebih buruk dari yang lain, dengan demikian ia lebih membutuhkan kasih karunia Allah daripada orang lain.  Kita mungkin menilai Paulus lebih dari yang lainnya dalam menerima terang Allah.  Sekali lagi Paulus menegaskan bahwa tidak ada sesuatu dalam dirinya yang bisa dibanggakan dan tidak seharusnya ia memegahkan diri!  Sebaliknya ia berkata, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri."  (Efesus 2:8-9).  Paulus dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah, bukan karena baik atau punya kelebihan dari yang lain.

     Jadi, ingatlah: "...bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.  Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memgahkan diri di hadapan Allah."  (1 Korintus 1:26-29).

Jangan ada yang memegahkan diri...

Monday, October 18, 2010

TAK LAGI KUATIR DAN TETAP BERSYUKUR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Oktober 2010 -

Baca: Filipi 4:4-9

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."  Filipi 4:6

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk menyatakan permohonan kepada Allah dalam segala hal.  Segala hal berarti seluruhnya, tanpa ada perkecualian.  Jadi dalam segala hal, dengan doa dan permohonan dengan ucapan syukur, kita menyampaikan permohonan kepada Allah.  Banyak orang datang kepada Tuhan dengan doa dan permohonan tetapi masih saja kuatir, mengeluh serta menggerutu.  Jika kita terus menggerutu tentang permasalahan yang ada dan berusaha menyelesaikannya dengan kekuatan sendiri, maka berarti kita tidak perlu lagi berdoa dan datang kepada Tuhan, bukan?  Selama kita terpaku dan memegang erat-erat masalah kita tidak ada gunanya untuk berdoa, karena berarti kita belum mau melepaskan dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan.

     Mari perhatikan apa yang Alkitab ajarkan tentang masalah yang kita alami:  "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu."  (1 Petrus 5:7).  Jika kita menyerahkan masalah kita kepada Tuhan, kita tidak perlu memikirkan masalah itu lagi karena masalah itu sudah ada di tangan Tuhan.  Dia mau menanggung kekuatiran kita sehingga kita pun tidak perlu menanggungnya lagi.  Amin?  Tuhan memerintahkan kita untuk tidak kuatir dengan menyerahkan kekuatiran itu kepadaNya dalam doa dan permohonan serta ucapan syukur.

     Kunci utama untuk lepas dari kekuatiran adalah memuji Tuhan.  Tuhan akan membebaskan kita dari semua permasalahan yang ada jika kita mau belajar memuji dan bersyukur kepadaNya.  Mengucap syukur dalam segala perkara kepada Tuhan adalah penting.  Ada banyak ayat dalam Perjanjian Lama yang berbicara mengenai ucapan syukur kepada Tuhan.  Salah satunya adalah:  "Masuklah melalui pintu gerbangNya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataranNya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepadaNya dan pujilah namaNya!  Sebab Tuhan iu baik, kasih setiaNya untuk selama-lamanya, dan kesetiaanNya tetap turun-temurun."  (Mazmur 100:4-5).  Memasuki gerbang Allah dan pelataranNya dengan pujian adalah menunjuk kepada hal berdoa.

"Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah...Berserulah kepadaKu pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku."  Mazmur 50:14-15

Sunday, October 17, 2010

HIDUP KITA ADALAH MISI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Oktober 2010 -

Baca: 2 Korintus 5:11-21

"Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami."  2 Korintus 5:18

Ciri orang Kristen yang sejati adalah adanya perubahan hidup dalam dirinya dan juga berbuah, salah satunya adalah buah pelayanan, karena orang yang sudah diselamatkan dan bertumbuh sebagai anak Tuhan pasti memiliki hati yang rindu untuk melayani Tuhan.

     Perlu kita ketahui bahwa hidup melayani itu merupakan rancangan Tuhan sejak mula pertama Dia menciptakan manusia.  Dia menjadikan manusia dengan tujuan agar manusia bisa memberikan suatu kontribusi lewat hidupnya, bukan sekedar menggunakan apalagi menghabiskan sumber daya di bumi.  Inilah yang disebut misi.  Jadi, kita ini diciptakan untuk sebuah misi.  Kata misi berasal dari bahasa Latin yang artinya diutus.  Menjadi seorang Kristen berarti diutus ke dunia sebagai wakil Tuhan Yesus, seperti yang Yesus katakana:  "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."  (Yohanes 20:21b).  Dan Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan:  datang ke dunia untuk melayani dan memberikan hidupNya.

     Apa yang menjadi misi Yesus ketika di dunia kini menjadi misi kita, yang adalah anggota tubuh Kristus.  Apa yang sudah dilakukan Tuhan Yesus dalam tubuh jasmaniNya di dunia harus kita lanjutkan karena kita ini adalah 'tubuh rohani' Kristus.  Perlu diingatkan di sini bahwa tugas atau misi ini bukanlah hak istimewa para hamba Tuhan atau fulltimer saja.  Alkitab menegaskan bahwa setiap orang percaya adalah hamba yang harus melayani.  Jadi, semua orang Kristen harus terlibat dalam misi ini.  Bagaimana saya bisa?  Bisa!  Karena kepada setiap orang percaya Tuhan mengaruniakan karunia rohani untuk memperlengkapinya dalam melayani bersama dengan anggota tubuh Kristus lainnya.  Karunia rohani tersebut merupakan anugerah Tuhan, suatu kekuatan adikodrati dari Tuhan yang hanya diberikan kepada orang percaya, yaitu mereka yang sudah lahir baru.  Dan dunia rohani ini diberikan kepada kita bukan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan bersama, seperti tertulis:  "...kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama."  (1 Korintus 12:7).

Tugas melayani ini bukanlah pilihan, himbauan, atau saran.  Ini adalah Amanat Agung.  Apabila kita mengabaikannya, berarti kita tidak taat kepada Tuhan.

Saturday, October 16, 2010

BERTINDAK DENGAN IMAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Oktober 2010 -

Baca: Matius 14:22-33

"Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak:  'Tuhan, tolonglah aku!' "  Matius 14:30

Mula-mula Petrus tidak melihat atau merasakan bahwa ada angin yang bertiup kencang serta gelombang yang besar menerpanya karena fokusnya saat itu adalah Tuhan Yesus, sehingga dia pun bertindak dengan iman berjalan di atas air.  Tetapi setelah memperhatikan keadaan di sekelilingnya Petrus mulai diliputi keragu-raguan, hatinya goyah dan mulailah ia tenggelam.

     Apabila kita memandang kepada Tuhan Yesus dan bertindak dengan iman melakukan suatu perkara, pasti kita berhasil. Tetapi apabila pertimbangan kita secara akal mulai bekerja pastilah kita akan gagal dan 'tenggelam'.  Jika kita memandang kepada Tuhan kita Yesus Kristus, kita tak usah memikirkan bagaimana caranya Ia menyelesaikan masalah kita.  Tak usah kita mengerti, yang penting percaya saja dan beriman.  Apabila kita mulai memikirkan angin dan gelombang yaitu keadaan di sekeliling kita, mulailah kita tenggelam, dan kita tak lagi dapat mengenali Tuhan Yesus.  Kemudian datanglah teguran, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"  (Matius 14:31b).  Apa pun keadaan yang menimpa kita biarlah terjadi seperti apa adanya, yang terpenting adalah tetap mengarahkan mata kepada Tuhan Yesus saja dan belajar bergantung kepadaNya sepenuhnya, maka Dia sanggup menyelesaikan segala persoalan kita.  Tuhan berkata, "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit?  Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.  Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.  Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit:."  (Matius 10:29-31).

     Renungkanlah ini:  burung pipit saja tak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapa, masakan Dia membiarkan kita tenggelam dan mati dalam persoalan kita?  Jadi jangan takut dan panik! "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu."  (1 Petrus 5:7).  Yang membuat persoalan semakin berat dan besar adalah perasaan kita yang takut itu.  Kalau saja kita dapat tenang menghadapinya pastilah kita mampu melewatinya karena Tuhan pasti memberikan pertolongan kepada kita.

Yesaya 30:15 mengatakan, "...dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu."

Friday, October 15, 2010

KERAJAAN ALLAH DI BUMI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Oktober 2010 -

Baca: Lukas 17:20-37

"juga orang tidak dapat mengatakan:  Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana!  Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu."  Lukas 17:21

Suatu hari orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus, bilamana Kerajaan Allah akan datang.  Yesus menjawab, "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan:  Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana!  Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu."  (ayat 20-21)

     Apakah maksud Yesus ketika Ia mengatakan ini kepada orang-orang Farisi?  Maksudnya adalah Ia ingin berkata: "Aku di sini".  Kita semua tahu bahwa Kerajaan Allah tidak dapat berada di antara orang-orang Farisi, tetapi hari itu Kerajaan telah berada di antara mereka karena seorang Raja ada di tengah-tengah mereka.  Kehadiran Yesus menunjukkan bahwa hukum Allah tidak terbelenggu, artinya "Di mana Yesus berada, di situlah KerajaanNya."  Alkitab menyatakan:  "Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darahNya - dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, BapaNya, - bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.  Amin."  (Wahyu 1:5b-6).

     Penebusan Kristus menegaskan bahwa kita telah dijadikanNya sebagai kerajaan.  Artinya, tidak hanya di mana Yesus berada kerajaanNya ada, tetapi di mana gerejaNya berada di situlah Kerajaan Allah ditegakkan.  Ini merupakan tempat di mana Dia bebas menunjukkan otoritasNya, karena Dia harus memiliki ruang gerak agar kerajaanNya, kuasaNya dan kemuliaanNya dapat bekerja dengan bebas.  Yang penting bukanlah imbalan yang akan kita peroleh atau kedudukan dalam kerajaan Allah, seperti yang disampaikan Yakobus dan Yohanes kepada Yesus:  "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu."  (Markus 10:37), tetapi yang terutama adalah melakukan peranan gereja untuk menghadirkan KerajaanNya di bumi ini.

     Nah, sudahkah kita menjalankan tugas menghadirkan 'KerajaanNya'?  Orang dunia akan melihat 'KerajaanNya' ketika ada buah roh dalam kehidupan kita, yang menunjukkan bahwa hidup kita bukan kita lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita.

Dengan melakukan kehendak Tuhan kita menghadirkan KerajaanNya di antara manusia di bumi.

Thursday, October 14, 2010

KARENA CAMPUR TANGAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Oktober 2010 -

Baca: Ester 6:1-14

"Lalu Haman mengambil pakaian dan kuda itu, dan dikenakannya pakaian itu kepada Mordekhai, kemudian diaraknya Mordekhai melalui lapangan kota itu, sedang ia menyerukan di depannya:  'Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya.' "  Ester 6:11

Sebelum malam ketika raja Ahasyweros tidak dapat tidur, ada suatu peristiwa yang sangat gawat terjadi.  Orang-orang Yahudi yang berada di wilayah kekuasaan raja Persia sedang berada dalam bahaya, karena Haman yang keji sedang mengadakan rancangan yang jahat terhadap orang-orang Yahudi.  Tetapi Allah Israel tidak pernah tinggal diam, Dia sangat memperhatikan kesengsaran umatNya.  Sungguh benar apa yang dikatakan pemazmur:  "Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.  Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel."  (Mazmur 121:3-4).  Lalu, di dalam Ester pasal 6 ini, semua peristiwa mulai berubah dan berbalik, justru menuju kepada kejatuhan dan kematian Haman.  Mordekhai yang rencananya hendak digantung oleh Haman (baca Ester 5:14) malah beroleh peninggian dari raja Ahasyweros.  Mordekhai diangkat kepada posisi tertinggi kedua di kerajaan.

     Peristiwa-peristiwa dalam pasal ini tidak terjadi secara kebetulan tetapi karena ada kuasa Tuhan yang bekerja.  Pada suatu malam Raja Ahasyweros tak dapat tidur, maka ia memerintahkan agar buku catatan sejarah dibacakan baginya.  Tertulis di dalamnya bahwa sesungguhnya Mordekhai telah berjasa besar bagi kerajaan.  Ia "...pernah memberitahukan bahwa Bigtan dan Teresy, dua orang sida-sida raja yang termasuk golongan penjaga pintu, telah berikhtiar membunuh raja Ahasyweros."  (Ester 6:2).  Raja benar-benar telah berhutang nyawa kepadanya.  Raja pun menanyakan penghargaan apa yang telah diberikan kepada Mordekhai yang berjasa itu, tapi tidak satu pun penghargaan yang didapat Mordekhai.  Maka raja langsung mengangkat Mordekhai ke posisi yang tinggi dan dia dibebaskan dari tiang gantungan.  Sebaliknya, Hamanlah yang digantung sebagai pengganti Mordekhai.

     Demikianlah untuk menyelamatkan Mordekhai, Tuhan turut bekerja, dibuatnya raja tak dapat tidur; dibuatnya raja teringat pada catatan sejarah kerajaan.  Dan mengapa ia tepat membuka halaman di mana tercatat sejarah tentang jasa Mordekhai?

Semuanya itu bukan suatu kebetulan, "...bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan..."  (Roma 8:28).

Wednesday, October 13, 2010

PERSEPULUHAN DAN MOTIVASI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Oktober 2010 -

Baca: Maleakhi 3:6-12

"Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman Tuhan semesta alam."  Maleakhi 3:11

Banyak orang tidak mengerti bahwa dengan tidak memberikan persembahan persepuluhan berarti kita telah menipu Tuhan.  Kok bisa?  Tertulis:  "Bolehkah manusia menipu Allah?  Namun kamu menipu Aku.  Tetapi kamu berkata:  'Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?'  Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!"  (ayat 8).  Ada pula orang yang memberikan persembahan persepuluhan tapi motivasinya tidak benar.  Mereka memberikannya hanya dengan tujuan ingin memperoleh berkat seperti yang dijanjikan Tuhan, walaupun memang Ia menjanjikan berkat berlimpah bagi yang memberikan persembahan persepuluhan.

     Adalah sangat sulit untuk membedakan pemberian dengan tujuan menerima kembali dan pemberian dengan motivasi yang benar.  Tak seorang pun dapat menggali isi hati orang lain, hanya Roh Kuduslah yang tahu in detail tentang isi hati kita.  Jika kita memberi persembahan dengan motivasi yang tidak benar, maka janji berkat itu tidak ada fungsinya.  Kita memberi pertama-tama haruslah karena kita mengasihi Tuhan.  Kita memberi atau mempersembahkan uang juga karena kita mengasihi jiwa-jiwa lain agar diselamatkan, mencintai Kerajaan Allah dan pekerjaanNya di bumi.  Katakan:  "Saya akan memberi walaupun tak mendapat imbalan.  Saya melakukan ini karena saya mengasihi Tuhan dan taat terhadap firmanNya."  Tuhan pasti akan mengindahkan persembahan kita dan akan membuka tingkap-tingkap langit untuk mencurahkan berkatNya.  Alkitab menyatakan:  "apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka."  (Wahyu 3:7b).

      Sesungguhnya dengan memberikan persembahan persepuluhan kita belum bisa dikatakan mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan secara penuh, karena sepersepuluh dari penghasilan kita itu adalah milik Tuhan dan memang harus kita kembalikan kepadaNya.

Jadi, persembahkan pula persembahan khusus, maka "...kamu akan diberi:  suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar dan dicurahkan ke dalam ribaanmu.  Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."  (Lukas 6:38).

Tuesday, October 12, 2010

HIDUP DALAM PUJI-PUJIAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Oktober 2010 -

Baca: Mazmur 150:1-6

"Haleluya!  Pujilah Allah dalam tempat kudusNya!  Pujilah Dia dalam cakrawalaNya yang kuat!"  Mazmur 150:1

Daud berkata, "...Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel."  (Mazmur 22:4).  Ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu hadir di setiap pujian yang dinaikkan umatNya.  Hati Tuhan akan disenangkan apabila kita mau memuji dan bersyukur kepada Dia terus-menerus.

     Tidak ada hal yang rasanya lebih menyenangkan bagi kita ketika kita menerima pujian yang tulus dan penghargaan dari orang lain.  Demikian juga Tuhan, Ia sangat menyukai pujian yang dinaikkan dengan tulus kepada Dia.  Dan yang lebih menyenangkan lagi, ketika kita memberikan pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan, dan ketika kita memberi Dia kesukaan, hati kita sendiri pun akan dipenuhi dengan sukacita.  Bahkan pemazmur menyerukan supaya segala yang bernafas juga memuji-muji Tuhan.  Kata-kata pujian itu tidak cukup hanya ada di benak kita saja, namun harus diekspresikan.

     Perhatikan burung-burung berkicau di pagi hari tanda mereka sedang memuji-muji PenciptaNya.  Memuji-muji Tuhan berarti bersykur, karena orang yang tidak tahu bersyukur pasti tidak dapat memuji-muji Tuhan.  Jika burung berkicau dan memuji Tuhan di pagi hari, kita yang baru bangun tidur biasanya pertama kali mencari kopi, rokok dan koran terlebih dahulu.  Alangkah indahnya jika hal pertama yang kita lakukan ketika kita membuka mata di pagi hari adalah menyediakan waktu untuk bersaat teduh serta menaikkan pujian syukur kepada Tuhan.  Bila ini kita lakukan kita akan merasakan sepanjang hari ini ada sukacita di hati.  Sebaliknya bila kita lupa memuji Tuhan, hati ini segera diliputi perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan:  jengkel, kecewa, murung.  "Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya."  (Ibrani 13:15).

     Pujian dan penyembahan jangan hanya dilakukan di tempat ibadah saja.  Hendaklah itu ke luar dari dalam hati kita setiap saat.  Kita memuji Dia karena apa yang telah Dia perbuat atas kita, dan kita menyembahNya karena Dia adalah Tuhan dan Allah kita.  Pujian yang kita naikkan senantiasa menghasilkan pengharapan.

Tuhan berkata, "Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku."  (Mazmur 50:23a).

Monday, October 11, 2010

JANGAN TAKUT, TUHAN MENYERTAI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Oktober 2010 -

Baca: Yesaya 43:1-7

"apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau."  Yesaya 43:2b

Bila saat ini kita sedang melewati masa-masa yang tidak menyenangkan, persoalan atau penderitaan datang silih berganti mewarnai hari-hari kita, jangan sekali-kali menyerah dan putus asa, apalagi sampai marah kepada Tuhan.  Pencobaan yang kita alami bisa saja antara lain terjadi karena ketidaktaatan atau kesalahan kita.

     Tidak ada jalan lain, kita harus segera bertobat dan minta ampun kepada Tuhan.  Namun yang pasti, pencobaan juga merupakan senjata yang digunakan Iblis untuk menghancurkan hidup kita;  pencobaan adalah tanda bahwa Iblis sangat membenci kita.  Sebaliknya, bila pencobaan itu diijinkan Tuhan, maka itu adalah cara Tuhan untuk mengembangkan karakter kita.  Kita tidak akan bertumbuh tanpa melewati ujian atau pencobaan.  Jadi jangan terkejut dan berkecil hati!  Jangan pernah mau diintimidasi Iblis, karena "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.  Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.  Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."  (1 Korintus 10:13).  Selama ini banyak orang Kristen yang menjadi frustasi, drop/hilang semangat dan tidak lagi berpaut kepada Tuhan saat dalam pencobaan.  Mari kita belajar dari Daud, yang meski dalam keadaan buruk senantiasa menggunakan bahasa iman.  Bahasa iman itu sangat penting dalam kehidupan kita agar kuasa pertolongan Tuhan dapat bekerja dalam kita.  Daud berkata, "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;" (Mazmur 23:4a).

     Kalau kita yakin akan penyertaan Tuhan, sebagaimana Daud mengalaminya, kita tidak akan berbicara mengenai lembah kekelaman, tetapi kita akan menggemakan penyertaan Tuhan di mana pun kita berada.  Bersama Tuhan Yesus kita akan aman dan terpelihara.  Seringkali kita tidak merasakan betapa Tuhan itu menyertai kita.  Kehadiran Tuhan tak perlu dirasakan dengan pancaindera kita, tapi kita harus yakin seperti Daud yang berkata, "Tuhan besertaku!"  Itulah sebabnya Daud tidak takut mestki berada dalam lembah kekelaman.

Hari ini, Allah sendiri telah menegaskan janjiNya kepada kita:  "Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau,..."  (Yesaya 43:5a).

Sunday, October 10, 2010

HAL MELAYANI TUHAN: Jangan Mencari Pujian Manusia

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Oktober 2010 -

Baca: 1 Tesalonika 2:1-12

"Juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus."  1 Tesalonika 2:6

Siapa yang tidak ingin menjadi orang terkenal, dipuji dan disanjung oleh banyak orang?  Dunia memang haus akan sanjungan, penghargaan dan pujian.  Banyak yang rela mengorbankan waktunya demi meraih popularitas dan sanjungan dari pihak lain.

     Namun bagi kita sebagai orang percaya, khususnya para pelayan Tuhan, berhati-hatilah!  Jangan sampai kita haus pujian dari orang lain, karena biasanya kata-kata pujian dan sanjungna itu sangat berbahaya.  Sebab apabila kita mabuk pujian atau sanjungan kita akan tergelincir.  Kata-kata semacam itu bagaikan minyak yang licin tertuang di jalan, siapa pun yang lewat pasti akan jatuh tergelincir.  Sebaliknya, mari kita meneladani Tuhan Yesus!  Dalam pelayananNya untuk umat manusia, sangat jarang orang berterima kasih kepadaNya.  Yesus adalah Pemimpin Agung, tapi Dia sama sekali tidak haus akan sanjungan.  Dia datang ke dunia untuk melayani, bahkan untuk berkoraban.  "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang."  (Markus 10:45). 

     Ini suatu pelajaran berharga bagi kita, terlebih bagi para pelayan Tuhan.  Pelayan Tuhan haruslah memiliki hati seorang 'pelayan' juga.  Jangan sampai kita memiliki motivasi salah dalam melayani Tuhan.  Jika kita hanya bersemangat melayani ketika pelayanan itu menyenangkan bagi kita, berarti kita bukanlah seorang pelayan sejati.  Apalagi jika tujuan pelayanan kita adalah untuk mencari nama, pujian atau mendapatkan penghargaan dari orang lain.  Di setiap pelayanan nama Yesus haruslah tetap kita kedepankan!  Jangan sampai nama pribadi dan segala atributnya yang kita gembar-gemborkan.  Banyak yang berpikir:  semakin populer nama hamba Tuhan, ia akan semakin laris di pasaran, berarti pula 'tarifnya' akan semakin tinggi.  Bukankah fenomena semacam ini kian marak?  Mari kita melayani Tuhan dengan motivasi yang benar, jangan mencari hormat dan pujian dari manusia.  Tuhan itu tidak pernah tertidur dan terlelap, Dia senantiasa memperhatikan dan menyediakan upah untuk setiap jerih lelah kita bagi Dia.

Selama melayani Tuhan bisakah kita berkata, "Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga."  Kisah 20:33

Saturday, October 9, 2010

MENGANDALKAN NAMA TUHAN DALAM SEGALA HAL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Oktober 2010 -

Baca: 1 Samuel 17:40-58

"Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu." 1 Samuel 17:45

Di era serbamodern ini tidak mudah orang mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.  Kebanyakan orang cenderung bersandar pada kekuatan, kemampuan, kesuksesan atau perkara-perkara yang dimilikinya.  Contoh:  mengandalkan keahlian dan ijazah bagi mereka yang ingin sukses dalam karir atau pekerjaan sudah menjadi 'harga mati', tak bisa ditawar lagi.  Bagi para pebisnis, yang menjadi tumpuan harapannya adalah besar/kecilnya modal yang ia miliki sehingga Tuhan atau perkara rohani tidak lagi masuk prioritas dalam hidupnya.  Bukankah demikian?

     Namun, orang yang bersandar pada Tuhan melakukan segala sesuatu dengan nama Tuhan yaitu Tuhan Yesus Kristus, karena nama itu mempunyai kekuatan dan kuasa yang tak terbatas.  Hal ini tertulis dalam Alkitab:  "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang:  Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai."  (Yesaya 9:5).  Jika kita menyerukan nama Tuhan Yesus, kita sedang menyerukan nama Allah yang Perkasa.

     Dengan kekuatan dan selengkap senjata perangnya Goliat merasa yakin bahwa ia akan dengan mudah membunuh Daud.  Secara teori dan logika manusia Goliat pasti akan menang.  Perhatikan apa yang dilakukan Daud:  "...aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu."   (1 Samuel 17:45).  Nama Tuhan itulah yang membawa keselamatan dan kemenangan sehingga Goliat pun mati terbunuh.  Daud tahu bahwa nama Tuhanlah yang membawa kemenangan.  Oleh karenanya di tetap merendah ketika Saul menanyakan soal dirinya,  " 'Anak siapakah engkau, ya orang muda?'  Jawab Daud: 'Anak hamba tuanku, Isai, orang Betlehem itu.' "  (1 Samuel 17:58).  Daud tetap mengakui bahwa ia adalah anak hamba Saul.  Jadi, jangan sekali-kali bersandar pada keberadaan kita.  Dalam segala perkara cukuplah kita membawa nama Tuhan Yesus, di mana pun berada.

Mari berkata, "Ya, Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan."  (2 Samuel 22:2-3)

Friday, October 8, 2010

HAL KASIH: Memenuhi Hukum Taurat

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Oktober 2010 -

Baca: Roma 13:8-14

"Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat." Roma 13:8b

Berkat dan kutuk masih ditawarkan kepada kita sampai hari ini; kita bebas memilihnya!  Dalam Perjanjian Baru dikatakan:  "Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.  Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman:  jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu:  kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!  Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat."  (Roma 13:8-10).

     Jadi hari-hari seperti sorga di bumi atau hari-hari penuh kutukan tergantung dari kita sendiri, bukan tergantung dari Tuhan.  Jika kita ingin mengalami hidup dalam berkata-berkat sorgawi di bumi, kita harus berjalan dalam kasih.  Banyak orang ingin menikmati hasil yang baik dari bumi tapi tak mau melakukan apa yang Tuhan perintahkan.  Jika kita sungguh-sungguh taat pada apa yang Tuhan katakan dalam Alkitab, tak usah kita berdoa mohon berkat Tuhan, sebab berkat itu sudah dengan sendirinya dicurahkan kepada mereka yang taat.

    Tuhan itu tak pernah ingkar janji!  Jika kita ingin mengalami berkat Allah dalam hari-hari kita seperti sorga di bumi, kita harus benar-benar taat pada firmanNya dan hidup dalam kasih.  Hidup dalam kasih meliputi segala aspek hidup yang baik, seperti yang disampaikan Paulus, "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam pencabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati."  (Roma 13:13).  Apabila kita masih senang berselisih dan iri hati, sulit bagi kita untuk menikmati hari-hari seperti sorga di bumi.  Selama iri hati masih merajai hati kita, mungkinkah suasana sorga itu turun di bumi dan ada dalam hati kita?  Tentu perasaan damai sejahtera itu akan sirna karena yang ada hanyalah panas hati yang berkepanjangan.  Harus kita ingat bahwa untuk mengalami damai sejahtera (suasana sorga) tidak ada jalan lain, selain harus melekat pada Kristus yang adalah Sumber damai sejahtera itu.

Maka, "...kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya."  Roma 13:14

Thursday, October 7, 2010

SUASANA SORGA DI BUMI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Oktober 2010 -

Baca: Ulangan 7:12-26

"Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau Tuhan, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setiaNya yang diikrarkanNya dengan sumpah kepada nenek moyangmu."  Ulangan 7:12

Kita hidup di dunia ini bukan tanpa tujuan, bukan untuk berfoya-foya menuruti kehendak sendiri, melainkan harus hidup seturut kehendak Tuhan yang adalah Pencipta kita.  Harus kita ketahui bahwa cara hidup kita selama di dunia ini akan menentukan nasib kita di alam baka kelak, di mana hanya ada dua tempat di sana yaitu istana Raja atau penjara, sorga atau neraka.  Dan jalan menuju ke dua tempat itu sudah dirintis di dunia ini, kita tinggal menentukan pilihan.  Untuk mencapai sorga haruslah melalui pertobatan, sebab bila waktu atau kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita telah berakhir, semuanya sudah terlambat dan tak dapat diubah lagi.

     Sesungguhnya suasana sorga dapat kita rasakan meski kita masih berada di bumi asal kita mau menaati semua perintah Tuhan, sebagaimana Tuhan berjanji kepada umat Israel, bila mereka taat semua perintahNya, mereka akan mengalami hidup seperti di sorga:  tidak ada kemandulan, hasil bumi diberkati, penyakit dijauhkan dan lain-lain.  Sebaliknya bila mereka melanggar perintahNya, maka kutuk, kesulitan dan sebagainya akan menimpa mereka.  Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel adalah hamba-hambaNya (budak) Allah.  Dikatakan:  "...mereka itu hamba-hambaKu yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak."  (Imamat 25:42).  Tetapi dalam Perjanjian Baru Allah menyebut kita sebagai anak-anaknya:  "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah."  (1 Yohanes 3:1a).

     Kalau dahulu di zaman Perjanjian Lama saja kehidupan hamba-hambaNya dikehendaki seperti kehidupan sorga di bumi, apalagi anak-anakNya dalam Perjanjian Baru, masakan dikehendakiNya hidup yang lebih buruk? Namun, dapatkan kita juga menikmati hari-hari seperti sorga di bumi?  Tentu!  Tapi semua itu tergantung dari sikap kita sendiri dan kitalah yang menentukan pilihan itu:  berkat atau kutuk (baca Ulangan 11:26-28).

Namun karena kekerasan hati, manusia lebih senang menuruti kehendaknya sendiri daripada taat kepada firman Tuhan, walau untuk itu mereka harus mengalami banyak penderitaan.

Wednesday, October 6, 2010

MARI BERPERKARA DENGAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Oktober 2010 -

Baca: Yesaya 1:10-20

"Marilah, baiklah kita berperkara! - firman Tuhan - Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."  Yesaya 1:18

Ketika doa-doa yang mereka panjatkan belum juga terjawab, banyak orang beranggapan bahwa Tuhan itu tidak ada atau Tuhan itu tidak adil.

     Sesungguhnya hal utama yang harus kita lakukan adalah memeriksa diri terlebih dahulu, masalah apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita.  Kita mengira bahwa dengan memberikan persembahan yang banyak atau uang jutaan untuk gereja, hati Tuhan sudah disenangkan.  Mari perhatikan ini:  korban yang dipersembahkan kepada Tuhan jika tidak disertai dengan pertobatan hidup yang merupakan kekejian bagi Tuhan.  Tuhan berkata kepada bangsa Israel, "Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagiKu."  (Yesus 1:13a).  Bahkan Tuhan berkata, "Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah."  (Yesaya 1:15).  Yang dimaksud tangan penuh dengan darah bukan semata-mata pembunuhan secara fisik, tapi juga penganiayaan rohani terhadap orang lain seperti gosip, fitnah, iri hati dan perbuatan-perbuatan jahat lainnya.  Dan satu-satunya cara membuat Tuhan mau mendengar dan memperhatikan doa-doa kita adalah kita harus berhenti berbuat dosa dan bertobat bersungguh-sugguh.  Ia berkata, "Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mataKu.  Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!"  (Yesaya 1:16-17).

     Jika kita bertobat dengan sungguh-sungguh, doa kita akan diampuni!  Seperti dikatakanNya, "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu."  (Yesaya 43:25).  Karena Dia sudah mengampuni dosa kita, Dia menghendaki ada tindakan nyata kita, "Ingatkanlah Aku, marilah kita berperkara, kemukakanlah segala sesuatu, supaya engkau nyata benar!"  (Yesaya 43:26).

Janji Tuhan itu ya dan amin, "Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu."  (Yesaya 1:19).

Tuesday, October 5, 2010

HARUS BERTANGGUNG JAWAB

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Oktober 2010 -

Baca: Matius 25:14-30

"Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.  Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."  Matius 25:21

Tuhan berkuasa mengerjakan segala sesuatu, tapi ada hal-hal tertentu di mana Dia ingin kita menjadi partnerNya karena kita diciptakanNya untuk sebuah misi.  Dia ingin kita mau bekerjasama dengan Dia.

     Tugas yang Tuhan Yesus jalankan semasa ada di bumi sekarang menjadi tugas dan tanggungjawab kita karena kita merupakan Tubuh Kristus.  Dia telah memilih kita sebagai kawan sekerjaNya dan memilih kita untuk mengambil bagian dalam memenuhi tujuan dan rencanaNya, seperti dikatakan Paulus, "...kami adalah kawan sekerja Allah;"  (1 Korintus 3:9a).  Meski demikian Tuhan tidak pernah memaksa kita.  Pilihan tetap ada di tangan kita: mau atau tidak!

     Banyak orang Kristen yang tidak produktif karena mereka meremehkan ketaatan kepada Tuhan.  Mereka menolak bekerjasama dengan Tuhan karena kemalasan dan ketidaktaatannya.  Maka Tuhan pun akan membiarkan mereka, sebab tak perlu Tuhan memaksakan kehendak kepada manusia.  Banyak orang dengan anugerah Allah melalui iman telah lahir baru, tapi kemudian mereka gagal bekerjasama dengan Roh Kudus dalam hidup kekudusannya, yang merupakan proses untuk menjadi semakin hari semakin serupa dengna Kristus.  Mereka tetap menjadi orang Kristen yang kerdil dan tidak berbuah.  Orang-orang seperti ini biasanya akan menyalahkan Tuhan, seperti hamba yang menerima satu talenta; katanya, "Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.  Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah:  Ini, terimalah kepunyaan tuan!"  (Matius 25:24-25).  Sudah tentu tuannya sangat marah dan akhirnya menjatuhkan hukuman.  Tidak seharusnya mereka menyalahkan Tuhan atas kegagalannya karena mereka sendiri yang telah menolak atau meremehkan untuk tidak bekerjasama dengan Tuhan.  Karena itu mereka tak akan pernah mengembangkan akarnya mencapai kedalaman yang dibutuhkan untuk dapat menghasilkan buah.

Setiap orang Kristen bertanggung jawab atas segala sesuatu yang mereka peroleh dari Tuhan; bila tak bertanggungjawab, yang mereka terima itu akan diambil kembali.

Monday, October 4, 2010

KOMPONEN-KOMPONEN DOA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Oktober 2010 -

Baca: Habakuk 2:1-5

"Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh."   Habakuk 2:3

Ketiga.  Kita harus sabar menanti jawaban dari Tuhan.  Tuhan Yesus berkata,  "Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."  (Matius 26:38b).  Tinggallah di sini mengandung arti bahwa kita harus belajar bersabar dan tetap tekun menunggu jawaban doa.  Seberapa sabar kita menanti-nantikan Tuhan?  Sebagian besar orang Kristen tidak sabar menunggu waktu Tuhan.  Maunya doa kita langsung dijawab Tuhan dalam waktu semalam.  Kita menginginkan segala sesuatu dengan instan.  Saat doa kita belum dijawab Tuhan kita langsung kecewa, tidak lagi bertekun mencari Dia, bahkan dengan secepat kilat kita meninggalkan Tuhan dengan segala keluh dan omelan.  Daud menasihati. "Nantikanlah Tuhan!  Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!  Ya, nantikanlah Tuhan!"  (Mazmur 27:14), karena "...semua orang yang menantikan Engkau (Tuhan) takkan mendapat malu;"  (Mazmur 25:3a).  Seringkali doa kita tidak dijawab karena kita tidak mau bertahan dalam doa sampai terobosan terjadi.  Periode penantian berlaku menurut waktu Tuhan.  Ini adalah masa inkubasi di mana Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menerima curahan apa yang telah direncanakanNya bagi kita.  Ketika kita masuk di dalam doa untuk pergumulan yang berat, seperti juga dialami oleh Tuhan Yesus saat di Getsemani, kita harus berjaga-jaga karena saat itu kita masuk di dalam peperangan rohani sebab Iblis tidak pernah senang melihat kita menerima jawaban doa dari Tuhan.

     Keempat.  Kita harus berdoa dengan kerendahan hati.  "Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa,..."  (Matius 26:39).  Sikap Yesus yang sujud sampai ke tanah adalah bukti nyata akan kondisi hatiNya.  Dia adalah seorang yang rendah hati.  Yesus tahu bahwa kunci untuk menerima jawaban atas doa-doaNya itu adalah kerendahan hati.  Firman Tuhan berkata, "...barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."  (Matis 23:12).  Setiap kali kita berdoa kita harus menunjukkan sikap hormat dan penuh penghargaan kepada Tuhan, karena Dia Allah yang patut kita sembah.  Doa yang kita sertai dengan penyembahan akan menggerakkan tangan Tuhan untuk bertindak.

"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  Yakobus 5:16b

Sunday, October 3, 2010

KOMPONEN-KOMPONEN DOA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Oktober 2010 -

Baca: Matius 26:36-46

"Lalu Ia berkata kepada murid-muridNya:  'Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.' "  Matius 26:36b.

Saudara ingin menjadi seorang Kristen yang diberkati?  Sukses?  Mengalami lawatan Tuhan dan dipakai olehNya?  Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah berdoa.  Kecerdasan dan keahlian yang kita miliki belumlah cukup, harus disertai pula dengan doa.  Doa itu nafas hidup orang percaya!  Tanpa doa, kita tidak akan mengalami terobosan dalam hidup ini.  Jadi, jangan kita meremehkan atau menganggap sepele doa karena dalam doa terkandung kuasa yang dahsyat!  Alkitab menulis:  "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  (Yakobus 5:16b).

     Ada hal-hal penting yang harus kita perhatikan dalam berdoa:  Pertama.  Kita harus memiliki tempat yang khusus untuk berdoa (Matius 26:36a).  Tertulis:  "Maka sampailah Yesus bersama murid-muridNya ke suatu tempat yang bernama Getsemani."  Ketika kita datang berdoa kepada Tuhan, usahakanlah memilih suatu tempat yang khusus, baik itu di rumah, ruangan pribadi, di menara doa atau gereja, karena ruangan yang biasa kita pakai untuk berdoa terus-menerus dan telah kita doakan secara khusus akan menjadi tempat perjanjian kita untuk bertemu dengan Tuhan secara pribadi setiap hari.  Namun bukan berarti kita tidak bisa berdoa di sembarang tempat, tetapi alangkah baiknya jika ada tempat khusus dan waktu khusus yang kita sediakan secara rutin untuk bersaat teduh dengan Tuhan setiap hari.

     Kedua.  Kita harus berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan.  Saat kita berdoa untuk suatu permohonan, kita harus tahu apa kehendak Tuhan bagi permohonan yang kita doakan itu.  Seringkali kita berdoa menurut kehendak dan keinginan diri kita sendiri, serta untuk memuaskan nafsu kita, seperti dikatakan:  "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu."  (Yakobus 4:3);  doa semacam ini tidaklah akan dijawab oleh Tuhan.  Atau kita berdoa, tapi kita melakukannya dengan asal-asalan atau tidak sungguh-sungguh.  Mari kita belajar dari Tuhan Yesus yang senantiasa bersungguh hati saat berdoa, "HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya."  (Matius 26:38a).  Apa yang dikatakan Tuhan Yesus ini menggambarkan suatu pergumulan yang begitu berat.  Karena itu Yesus berdoa dengan penyerahan total, bahkan sampai berkeringat darah.  (Berlanjut)

Saturday, October 2, 2010

BANGUNAN KUAT: Hal Merespons Firman

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Oktober 2010 -

Baca:  Lukas 6:46-49

"...Orang yang menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu.  Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyangkan, karena rumah itu kokoh dibangun."  Lukas 6:48

Setelah kita memiliki fondasi yang kuat dan kokoh yaitu Tuhan Yesus Kristus, maka selanjutnya kita perlu belajar membangun iman kita dengan sungguh di atas fondasi itu.  Mengapa kita harus membangun iman kita?  Karena perjalanan hidup orang percaya tidak selamanya mulus, terbebas dari ujian, masalah atau penderitaan; terkadang ada angin, banjir dan juga badai.

     Bagaimana cara membangun iman kita?  Dikatakan: "Setiap orang yang datang kepadaKu dan mendengarkan perkataanKu serta melakukannya - ..."  (ayat 47).  Jadi kita harus menyukai firman, seperti yang dilakukan Daud:  "aku suka melakukan kehendakMu, ya Allahku; TauratMu ada dalam dadaku."  (Mazmur 40:9).  Dengan mendengar, mempelajari, merenungkan dan melakukan atau mempraktekkan firman setiap hari, kita bukan saja memiliki dasar yang kokoh, namun 'bangunan' kehidupan rohani kita juga akan tahan dan tidak tergoyahkan meski ada badai yang menyerang.

     Semakin kita rindu mengenal Tuhan Yesus, akan semakin tekun pula kita mempelajari firman Tuhan.  Respons atau tanggapan kita terhadap firmanNya akan menentukan pengenalan kita terhadap kuasa firman itu.  Jika kita sudah membaca firman Tuhan bekali-kali namun kita tetap saja belum mengalami kuasa firman itu bukanlah berarti bahwa firman tersebut tidak ada kuasanya.  Yang penting diperhatikan adalah:  sudah benarkah respons kita terhadap firman itu?  Ada tertulis:  "...buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.  Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri."  (Yakobus 1:21-22).

     Bila respons kita benar, maka akan ada satu tindakan nyata dalam hidup kita yaitu kita akan membuang segala sesuatu yang kotor dan meninggalkan kejahatan, lalu menerima firman itu dengan lemah lembut, berarti kita tunduk.

Kehidupan rohani kita akan kuat bila respons dan sikap hati kita terhadap firman, benar!

Friday, October 1, 2010

YESUS KRISTUS: Fondasi Hidup Orang Percaya

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Oktober 2010 -

Baca: Mazmur 11:1-7

"Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?"  Mazmur 11:3

Negara Jepang adalah salah satu negara yang rentan bencana gempa.  Kita tahu apabila terjadi bencana gempa yang dahsyat ribuan bahkan jutaan manusia menjadi korban.  Akibat bencana itu gedung-gedung roboh dan hancur, rata dengan tanah.  Oleh karena itu para ahli beusaha bagaimana bisa membangun sebuah gedung yang antigempa, minimal tahan gempa; tidak hanya di Jepang tapi di negara-negara yang lain pun demikian.  Pastinya mereka akan membuat fondasi yang kuat terlebih dahulu supaya bangunan yang hendak didirikan di atasnya juga kuat berdiri.  Jadi, hal terpenting dari suatu bangunan adalah fondasinya.  Kualitas fondasi sebuah bangunan menentukan seberapa kokoh, serta setinggi apa bangunan bisa dibangun di atasnya.

     Kehidupan orang percaya juga diumpamakan seperti sebuah bangunan, yang juga sangat ditentukan oleh kualitas 'fondasi' yang ada.  Apakah yang menjadi fondasi hidup orang percaya?  Alkitab jelas menetapkan bahwa fondasi hidup orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri:  "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus."  (1 Korintus 3:11).  Jadi, yang menjadi fondasi kita bukanlah kartu keanggotaan kita di gereja tertentu, jam terbang pelayanan kita atau jabatan kita di gereja, tetapi hanya Pribadi Tuhan Yesus.  Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, "...Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.  Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."  (Matius 16:18-19).  Di sini Tuhan Yesus sedang berbicara tentang gerejaNya.

     Gereja yang 'sejati' tidak dibangun di atas pribadi Petrus, sebagai gambaran tentang keadaan manusia yang mudah goyah dan rapuh seperti kerikil kecil.  Apabila gereja Tuhan dibangun di atas pribadi manusia (Petrus), maka gereja akan menjadi mudah rapuh dan tidak bisa berdiri dengan kokoh.  Ini bisa terlihat dari kehidupan Petrus sendiri yang mudah goyah, bahkan pernah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak 3 kali.  Jadi, satu-satunya fondasi yang kuat dan kokoh bagi kehidupan orang percaya adalah batu karang Yesus Kristus.

Sebesar apa pun badai menerpa, gerejaNya akan tetap kokoh di atas fondasi Yesus Kristus!